Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Rifki Ismal, dalam acara Capacity Building yang digelar Bank Indonesia di Bandung. (kilasjatim.com/nova)
KILASJATIM.COM, Bandung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah dalam kurun waktu satu dekade terakhir yang menjadi tantangan serius terhadap perekonomian nasional. Kondisi tersebut berdampak langsung pada daya beli masyarakat, terutama terhadap barang impor.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Rifki Ismal, mengatakan, stabilitas mata uang tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga perilaku ekonomi masyarakat. Keberadaan mata uang nasional merupakan simbol penting dari kedaulatan sebuah negara.
“Negara yang tidak memiliki mata uang sendiri atau tidak diakui secara internasional, kata dia, akan menghadapi persoalan serius terkait legitimasi kedaulatannya. Kecintaan masyarakat terhadap produk dan mata uang dalam negeri menjadi kunci dalam memperkuat rupiah,” ujar Rifki Ismal dalam kegiatan Capacity Building 2026 di Bandung, Sabtu (13/2/2026).
Rifki mencontohkan kawasan Eropa yang menggunakan mata uang euro, namun tidak semua negara bersedia meninggalkan mata uang nasionalnya.
“Sikap Inggris yang memilih mempertahankan mata uang poundsterling dan tidak bergabung menggunakan euro. Keputusan tersebut, menurutnya, tidak semata-mata soal ekonomi, tetapi juga menyangkut identitas dan kebanggaan nasional,” paparnya.
Menurut Rifki, keberadaan mata uang nasional merupakan simbol penting kedaulatan sebuah negara. Negara yang memiliki mata uang kuat dan diakui secara internasional mencerminkan fondasi ekonomi yang kokoh.
Sebaliknya, negara dengan tingkat loyalitas tinggi terhadap produk domestik cenderung memiliki kebutuhan impor yang lebih rendah. Dampaknya, stabilitas mata uang mereka relatif lebih terjaga karena permintaan valuta asing tidak terlalu besar.
Rifki menegaskan, apabila masyarakat Indonesia semakin memprioritaskan konsumsi produk lokal, ketergantungan pada impor bisa ditekan. Dengan begitu, permintaan terhadap valuta asing berkurang dan stabilitas rupiah lebih terjaga.
Lebih jauh, Rifki menilai kecintaan masyarakat terhadap produk dan mata uang dalam negeri menjadi kunci dalam memperkuat rupiah.
Sebaliknya, negara dengan tingkat loyalitas tinggi terhadap produk domestik cenderung memiliki kebutuhan impor yang lebih rendah. Dampaknya, stabilitas mata uang mereka relatif lebih terjaga karena permintaan valuta asing tidak terlalu besar.
“Jika masyarakat Indonesia semakin memprioritaskan konsumsi produk lokal, ketergantungan pada impor bisa ditekan. Dengan begitu, permintaan terhadap valuta asing berkurang dan stabilitas rupiah lebih terjaga,” imbuhnya seraya menambahkan,
konsumsi barang impor, khususnya produk elektronik dan gawai, dinilai turut meningkatkan permintaan valuta asing yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah.
“Setiap kali impor meningkat, kebutuhan terhadap dolar atau mata uang asing ikut naik. Di situlah tekanan terhadap rupiah terjadi,” tegasnya.
Selain faktor domestik, Rifki juga menyoroti tantangan eksternal, termasuk kebijakan proteksionisme sejumlah negara besar yang berpotensi menghambat ekspor Indonesia. Hambatan ekspor dapat mengurangi penerimaan devisa dan berdampak pada pasokan dolar di dalam negeri.
“Ketika ekspor terhambat, pasokan devisa berkurang dan tekanan terhadap rupiah bisa meningkat. Kalau masyarakat semakin cinta Indonesia dan lebih memilih produk dalam negeri, ekonomi akan lebih kuat, ketergantungan terhadap luar negeri berkurang, dan rupiah bisa lebih stabil,” pungkasnya.
Karena itu, Rifki kembali mengajak masyarakat untuk memperkuat rasa bangga terhadap Indonesia dengan memilih produk dalam negeri. Menurutnya, langkah sederhana tersebut memiliki dampak makroekonomi yang besar, mulai dari memperkuat struktur ekonomi hingga menjaga ketahanan nilai tukar rupiah di tengah dinamika global. (nov)




