Malang Kota Slow Living yang Sayang Ditinggalkan

oleh -603 Dilihat

KILASJATIM.COM, Malang — Mahasiswa di Malang mulai diliputi keresahan menjelang akhir masa perkuliahan. Setelah lulus, mereka harus kembali ke daerah asal karena orang tua tak lagi membiayai kebutuhan hidup. Namun, tak sedikit yang enggan meninggalkan kota yang dijuluki Kota Pelajar ini. Alasannya beragam, terutama karena gaya hidup slow living yang terasa lekat: duduk santai, ngopi, dan berdiskusi.

Delta, salah satunya. Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang baru diwisuda tahun lalu itu mengaku berat meninggalkan Malang. Bukan karena harus berpisah dengan pacar, melainkan kebingungan memikirkan apa yang akan ia lakukan ketika kembali ke kampung halamannya.

“Pulang ke Blitar? Mau kerja jadi apa? Saya tidak punya teman,” katanya saat ditemui di Kedai Bintang Kecil, Jumat (13/2/2025).

Anak pertama dari dua bersaudara ini menuturkan, sebagian teman SMA-nya di Blitar telah merantau untuk bekerja atau kuliah di luar kota. Sebagian lainnya sudah berkeluarga atau menjadi TKW. Namun, alasan terbesarnya bukan itu. Ia khawatir tak lagi memiliki teman tongkrongan yang sefrekuensi—teman berdiskusi buku, berbincang santai, atau membahas isu politik terkini.

Kegiatan semacam itu hampir setiap hari ia lakukan sepulang kuliah atau saat akhir pekan. Rutinitas inilah yang membuatnya enggan pulang. Ia memilih bertahan dan mencari pekerjaan seadanya, meski upahnya jauh di bawah Upah Minimum Kota (UMK). Saat ini UMK Malang sebesar Rp3,7 juta, sementara ia hanya menerima sepertiganya.

Delta mengaku kedua orang tuanya sempat memintanya pulang setelah wisuda. Meski belum mendapat pekerjaan tetap, ia diminta membantu mengurus sawah dan beternak ayam sambil mengirim lamaran kerja sesuai ijazahnya sebagai pendidik. Namun, pemuda berambut ikal itu menolak dengan alasan belum siap kembali ke kampung halaman.

“Orang tua menyuruh pulang. Kalau tidak, mereka tidak akan mengirim jatah bulanan. Tapi saya bertahan. Kontrakan masih ada sampai enam bulan ke depan. Jadi tinggal cari untuk makan saja. Kebetulan ada teman buka warung kopi, sambil melamar kerja di tempat lain. Lagian enak di sini, tidak ada yang tanya-tanya kapan kerja kantoran,” ujarnya.

Baca Juga :  Pameran Seni Rupa “Lemere Roso” Meriahkan Harjaba Banyuwangi ke-254

Beban lain yang ia rasakan setelah lulus adalah pertanyaan, “Kapan kerja?” Pertanyaan itu ia terima saat pulang menjelang wisuda. Keluarga hingga tetangga menanyakan hal serupa. Baginya, itu menyakitkan. Sebab mencari pekerjaan tidak semudah yang dibayangkan orang, apalagi di desa.

Hal senada disampaikan Gatsa, pemuda asal Madiun yang lulus sejak tahun lalu. Lulusan fakultas ekonomi salah satu PTN ini mengaku belum siap kembali ke daerah asalnya. Alasannya serupa: merasa tak punya teman dan belum memperoleh pekerjaan tetap. Ia pun tak enak jika terus ditanya orang tua, keluarga besar, dan tetangga tentang pekerjaannya, meski kini bekerja sebagai pengemudi ojek online pengantar makanan untuk ShopeeFood dan Maxim.

“Bagaimana lagi, sudah melamar ke mana-mana belum ada panggilan. Ngojek saja dulu. Yang penting ada pekerjaan untuk bayar kos dan biaya hidup,” katanya.

Pekerjaan itu ia ambil karena menjadi peluang yang paling memungkinkan dibanding menganggur. Sejak lulus, keluarganya tak lagi mengirim uang bulanan. Bahkan, dua semester terakhir ia membayar UKT sendiri karena masa studi delapan semester tak terpenuhi. Pada tahun terakhir kuliah, ia bekerja serabutan, mulai membantu usaha sablon hingga berjualan kaus distro.

Selain faktor pekerjaan, Gatsa juga merasa akan kesepian jika kembali ke Madiun. Ia tak menemukan suasana tongkrongan dan diskusi yang menurutnya lebih hidup di Malang. Atmosfer kota ini ia nilai lebih santai dan terbuka. Siapa pun bisa diterima. Karena itu, ia bertahan hingga memasuki tahun ketujuh tinggal di Malang.

Sementara itu, Rahmawati, mahasiswi jurusan psikologi asal Cikarang, Jawa Barat, yang tengah menyusun skripsi, mengaku sedih dan gelisah memikirkan kepulangan. Setelah lulus nanti, ia harus kembali ke daerah asalnya. Perempuan berkacamata minus itu merasa berjarak dengan lingkungan lamanya, tempat teman-teman sekolahnya kini telah bekerja dan berkeluarga.

Baca Juga :  Jam Malam Untuk Anak Mulai Pekan Ini, Simak dan Perhatikan Skemanya

“Pas pulang kemarin, semua tanya kapan lulus kuliah. Si A sudah menikah, si B sudah punya anak, si C mobilnya baru, kerja di pabrik ini-itu. Cikarang banyak pabrik, jadi lulus SMP atau SMA kebanyakan pilih kerja. Orang-orang tanya begitu semua, jadi kena mental saya. Lagi skripsian, sebentar lagi lulus mau jadi apa?” ungkapnya.

Kegelisahannya bertambah saat membaca berita tentang angka pengangguran generasi produktif yang mencapai sekitar tujuh juta jiwa. Angka itu terasa besar baginya, meski persentasenya kurang dari 10 persen dari total penduduk Indonesia yang lebih dari 280 juta jiwa.

“Bayangkan kalau saya jadi bagian dari mereka. Bagaimana masa depan saya? Bagaimana menghadapi pertanyaan kalau saya yang sarjana malah dapat pekerjaan dengan gaji kecil, kalah dari lulusan SMP misalnya? Sementara cari kerja tidak mudah. Kalau pun ada, gajinya minim,” keluhnya.

Karena itu, sembari menyusun skripsi, ia mencari pekerjaan sampingan sebagai guru pendamping anak berkebutuhan khusus. Harapannya, ia bisa tetap tinggal di Malang setelah lulus. Meski belum genap empat tahun tinggal di kota ini, ia merasa lebih diterima, terutama karena banyaknya komunitas literasi dan forum diskusi yang sesuai dengan minatnya di bidang sastra.

Hariyono, pegiat literasi sekaligus pemilik Kedai Bintang Kecil yang kerap menjadi tempat berkumpul mahasiswa, mengaku sering mendengar keluhan serupa dari mahasiswa luar kota. Mereka sedih dan enggan meninggalkan Malang karena ritme kehidupan yang lebih tenang, tidak tergesa-gesa seperti di kota industri.

“Mungkin karena Malang kota pelajar. Yang dari luar kota tujuannya belajar, kalau ada waktu luang ngumpul dan diskusi santai. Di sini saya menerima siapa saja, dari Aceh sampai Papua ada. Kita duduk bersama membahas buku atau isu politik. Mungkin itu yang tidak mereka dapatkan di lingkungan sebelumnya,” katanya. (TQI)