KILASJATIM.COM, Jombang – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Kabupaten Jombang, Jawa Timur, memiliki tradisi khas yang rutin digelar setiap tahun, yakni Grebeg Apem. Tradisi ini menjadi salah satu bentuk ungkapan syukur sekaligus sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga dalam menyambut bulan penuh berkah.
Grebeg Apem biasanya dilaksanakan beberapa hari sebelum Ramadan tiba. Kegiatan ini identik dengan arak-arakan gunungan apem, yakni kue tradisional berbahan dasar tepung beras yang disusun menyerupai gunung. Gunungan tersebut kemudian diarak menuju pusat kota atau alun-alun dan dibagikan kepada masyarakat yang hadir.
Ribuan warga kerap memadati lokasi acara untuk menyaksikan prosesi kirab sekaligus mendapatkan apem yang dibagikan secara gratis. Suasana pun berlangsung meriah dan penuh kebersamaan. Bagi masyarakat setempat, momentum ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga memiliki nilai religius yang mendalam.
Secara filosofis, kata “apem” dipercaya berasal dari kata Arab “afwan” yang berarti maaf atau ampunan. Hal ini melambangkan ajakan kepada umat Islam untuk saling memaafkan dan membersihkan diri sebelum memasuki bulan Ramadan. Tradisi ini menjadi pengingat agar setiap individu menyucikan hati dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
Selain memiliki makna spiritual, Grebeg Apem juga mencerminkan akulturasi budaya Jawa dan ajaran Islam yang telah berkembang sejak lama di Jombang. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dan terus dijaga keberlangsungannya sebagai bagian dari kearifan lokal.
Pemerintah daerah bersama tokoh masyarakat turut berperan dalam melestarikan Grebeg Apem agar tetap menjadi agenda tahunan yang dinantikan warga. Kegiatan ini sekaligus menjadi daya tarik budaya yang memperkaya khazanah tradisi Ramadan di Indonesia.
Dengan semangat kebersamaan dan nilai saling memaafkan yang diusungnya, Grebeg Apem menjadi simbol kesiapan masyarakat Jombang dalam menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh harapan.(fat)




