Jajaran direksi dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) , Kementrian Keuangan dan Bank Indonesia usai Briefing di Kantor Bank Indonesia Jawa Timur, Surabaya, Senin (/02/2026).
KILASJATIM.COM, Surabaya – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan kinerja ekonomi Jawa Timur tumbuh solid pada 2026, dengan laju pertumbuhan berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen secara tahunan atau year on year (y-o-y).
Didasarkan pada konsumsi rumah tangga, investasi yang berkelanjutan, serta permintaan eksternal yang terjaga menjadi penopang utama.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim mengatakan, proyeksi tersebut mencerminkan optimisme terhadap stabilitas ekonomi daerah, meski tetap bergantung pada respons kebijakan pemerintah pusat dan daerah.
“Kalau kebijakan dan sentimen ekonomi mendukung, pertumbuhan bisa mendekati batas atas proyeksi,” ujar Ibrahim dalam Media Briefing di Kantor Bank Indonesia Jawa Timur, Surabaya, Senin (/02/2026).
Dari sisi inflasi, BI memperkirakan inflasi Jawa Timur pada 2026 tetap terkendali dalam target nasional 2,5 persen ±1 persen, seiring kuatnya koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Sementara itu, stabilitas harga turut memperkuat optimisme. Inflasi Jawa Timur pada Januari 2026 tercatat 3,29 persen secara tahunan, masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Bank Indonesia menilai inflasi yang terkendali memberi ruang bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat. Ibrahim menjelaskan, terjaganya inflasi tidak lepas dari penguatan sinergi pengendalian inflasi daerah, khususnya melalui koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Berbagai program stabilisasi pasokan dan harga pangan dinilai efektif meredam tekanan inflasi, terutama pada kelompok bahan makanan.
Dari sisi investasi, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur diperkirakan semakin kuat berkat aktivitas manufaktur yang berkelanjutan dan keberlanjutan proyek-proyek strategis nasional.
BI mencatat masuknya investasi baru di kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus (KEK), terutama setelah perbaikan infrastruktur dan konektivitas, serta peningkatan target investasi daerah.
Sejumlah investasi swasta yang telah berjalan antara lain di sektor industri logam dasar dan barang logam di Gresik dan Sidoarjo, industri makanan di Pasuruan dan Jombang, pembangunan pabrik kimia dan pabrik kaca di Gresik, hingga pengembangan lapangan migas Blok Cepu di Bojonegoro.
Sedangkan dari sisi ekspor, BI menilai kinerja manufaktur di sejumlah negara mitra dagang utama masih menunjukkan tren positif. “Kami berharap kondisi negara mitra dagang tetap kondusif sehingga dapat terus menopang ekspor Jawa Timur,” harapnya.
Sementara itu, stabilitas harga turut memperkuat optimisme. Inflasi Jawa Timur pada Januari 2026 tercatat 3,29 persen secara tahunan, masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Ibrahim menjelaskan, konsumsi rumah tangga diperkirakan meningkat dibanding tahun sebelumnya, ditopang membaiknya keyakinan konsumen, peningkatan penjualan ritel, serta berbagai stimulus fiskal pemerintah.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Jawa Timur pada akhir 2025 tercatat masih di bawah angka nasional sebesar 123,5. Namun pada 2026, IKK Jatim diproyeksikan naik ke level sekitar 128, sedangkan penjualan eceran diperkirakan tumbuh 3 persen atau lebih tinggi dibanding tahun lalu.
Pemerintah juga mendorong konsumsi melalui sejumlah kebijakan, antara lain perpanjangan insentif PPh Final UMKM 0,5 persen, serta PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk sektor pariwisata hingga Desember 2026 sesuai PMK 105/2025.
Selain itu, insentif PPh 21 DTP bagi industri padat karya diperpanjang hingga akhir 2026, disertai perluasan program Jaminan Kematian (JKM) bagi Bukan Penerima Upah (BPU). “Program-program ini diharapkan memperkuat konsumsi, ketenagakerjaan, sekaligus investasi,” paparnya. (nov)




