Harjasda ke-167, Warga Sedengan Mijen Gelar Ruwat Desa dengan Tumpeng Tempe Raksasa

oleh -681 Dilihat

Tumpeng ‎tempe raksasa setinggi sekitar 13 hingga 14 meter yang terbuat dari kurang lebih tiga kuintal kedelai (foto : diskominfo Sidoarjo)

KILASJATIM.COM, Sidoarjo – Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo (Harjasda) ke-167 tahun 2026 dimeriahkan tradisi ruwat desa atau sedekah bumi yang digelar masyarakat Desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian. Tradisi sarat nilai budaya ini menjadi wujud rasa syukur warga sekaligus upaya pelestarian kearifan lokal menjelang bulan suci Ramadhan.

Ikon utama kegiatan tersebut adalah tumpeng tempe raksasa setinggi sekitar 13 hingga 14 meter yang terbuat dari kurang lebih tiga kuintal kedelai. Tumpeng tempe ini disusun secara gotong royong oleh warga dan menjadi simbol identitas Desa Sedengan Mijen sebagai sentra penghasil tempe di Kabupaten Sidoarjo.

Usai doa bersama, ribuan warga yang sejak pagi memadati Lapangan Desa Sedengan Mijen langsung berebut potongan tempe raksasa. Suasana penuh kegembiraan dan kebersamaan mewarnai prosesi tersebut, karena tempe yang dibagikan diyakini membawa berkah bagi masyarakat.

Selain tumpeng tempe raksasa, kegiatan sedekah bumi ini juga diramaikan dengan 31 tumpeng hasil bumi yang dibawa oleh masing-masing RT. Beragam hasil pertanian, perkebunan, hingga perikanan dibagikan kepada warga, semakin menegaskan semangat gotong royong dan kebersamaan dalam tradisi tersebut.

Camat Krian, Nawari, yang hadir mewakili Bupati Sidoarjo, menyampaikan apresiasi atas kekompakan masyarakat Sedengan Mijen dalam menjaga dan melestarikan tradisi budaya lokal.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh masyarakat Sedengan Mijen. Tradisi ini sangat positif karena tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata daerah,” ujar Nawari, Minggu (1/2/2026).

Ia menambahkan, apabila terus dilestarikan dan dikemas dengan baik, sedekah tumpeng tempe raksasa berpeluang masuk dalam agenda wisata budaya Kabupaten Sidoarjo.

Baca Juga :  Menengok Tradisi Sedekah Bumi di Kampung Gadel Surabaya

Sementara itu, Kepala Desa Sedengan Mijen, Hasanuddin, menegaskan bahwa sedekah tumpeng tempe bukan sekadar agenda tahunan, melainkan wujud rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki serta sarana mempererat persatuan dan kebersamaan warga.

“Kami bersyukur seluruh rangkaian ruwat desa berjalan lancar. Kegiatan ini menjadi momentum kebersamaan dan gotong royong warga. Terima kasih kepada panitia dan seluruh pihak yang telah bekerja keras menyukseskan acara ini,” kata Hasanuddin.

Rangkaian ruwat desa telah digelar beberapa hari sebelumnya, mulai dari istighosah, barikan Khotmil Qur’an, pagelaran wayang kulit, hingga pasar jajanan tradisional. Puncak kegiatan ditandai dengan doa bersama dan perebutan tumpeng tempe di lapangan desa, dengan antusiasme warga yang berlangsung hingga acara berakhir.

Tradisi tumpeng tempe raksasa ini terus menjadi agenda tahunan yang dinanti masyarakat Desa Sedengan Mijen dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Sidoarjo dalam memperingati Harjasda ke-167.(TAM)

No More Posts Available.

No more pages to load.