Dua Bulan Berlaku, Pembatasan HP di Sekolah Surabaya Dinilai Berdampak Positif

oleh -547 Dilihat
oleh

KILASJATIM.COM, Surabaya – Penerapan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah. Kebijakan yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua ini diklaim mulai menunjukkan dampak positif terhadap kualitas pembelajaran dan interaksi sosial anak.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyebut kebijakan tersebut telah berjalan selama dua bulan. Hasil awalnya, aktivitas belajar di kelas menjadi lebih interaktif dan disiplin siswa meningkat.

“Pembatasan gawai membuat interaksi guru dan murid lebih hidup. Tujuan utamanya membentuk kedisiplinan dan karakter anak,” kata Eri yang dikutip, Jumat (30/1/2026).

Selain meningkatkan interaksi, pembatasan gawai juga berdampak pada menurunnya kasus perundungan di sekolah. Menurut Eri, siswa yang sebelumnya cenderung menyendiri karena fokus pada ponsel kini mulai lebih aktif berinteraksi.

“Kasus bullying menurun. Anak-anak yang biasanya menyendiri sekarang mulai berbaur dan berinteraksi,” ujarnya.

Eri menegaskan, orientasi pendidikan tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter. Karena itu, kebijakan ini diarahkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, fokus, dan bebas dari paparan konten digital yang tidak relevan.

“Anak-anak jadi lebih fokus belajar dan tidak terpapar konten yang tidak dibutuhkan,” katanya.

Kebijakan pembatasan gawai tidak hanya berlaku bagi siswa, tetapi juga guru. Pemkot Surabaya juga aktif melakukan sosialisasi kepada orang tua dengan menggelar pertemuan rutin antara wali murid dan pihak sekolah.

Respons orang tua, kata Eri, sejauh ini cukup positif. Namun, ia mengakui tantangan masih muncul dari rendahnya literasi digital sebagian orang tua dibanding anak-anak mereka.

“HP tidak bisa menggantikan peran orang tua. Orang tua harus ikut mengawasi, termasuk melihat riwayat penggunaan ponsel anak,” tegasnya.

Eri menekankan, pengawasan di rumah menjadi kunci keberhasilan kebijakan ini. Menurutnya, pembatasan gawai di sekolah tidak akan efektif tanpa peran aktif orang tua di lingkungan keluarga.

Baca Juga :  SPI Pendidikan 2026, Kadindik Jatim Dorong Tata Kelola Bersih

“Tidak cukup hanya di sekolah. Di rumah juga harus dijaga bersama orang tuanya,” tambahnya.

Pemkot Surabaya menargetkan kebijakan ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan Surabaya sebagai Kota Ramah Anak, sekaligus menyiapkan generasi muda yang memiliki karakter kuat dan kemampuan sosial yang baik.

“Teknologi tidak bisa dihindari, tapi harus diawasi. Anak-anak inilah calon pemimpin masa depan,” pungkas Eri. (cit) 

No More Posts Available.

No more pages to load.