KILASJATIM.COM, Banyuwangi – Program gotong royong penanganan kemiskinan ASN Banyuwangi Berbagi tidak hanya memberi manfaat bagi warga kurang mampu, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terlibat langsung di lapangan.
Program yang digagas Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, ini melibatkan ribuan ASN yang membagikan paket sembako secara door to door kepada warga membutuhkan. Kegiatan ini sekaligus menumbuhkan empati dan kepuasan batin bagi para ASN.
Seperti yang dirasakan Sekretaris Kelurahan Sobo, Ayu Widuri, keterlibatan langsung dalam penyaluran bantuan memberi pengalaman emosional yang mendalam.
“Ketika saya membantu masyarakat secara langsung, ada kebahagiaan luar biasa di hati. Ada kepuasan batin. Masyarakat bahagia, saya juga ikut bahagia,” ujar Ayu, Jumat (30/1/2026).
Program ASN Berbagi dilaksanakan rutin setiap bulan dan diikuti oleh PNS termasuk PPPK penuh waktu. Dari aksi sosial tersebut, setidaknya terkumpul 20 ribu paket sembako yang langsung diserahkan kepada warga kurang mampu.
“Saya percaya ketika kita membantu orang lain, rezeki tidak akan berkurang. Insyaallah justru bertambah, baik berupa kesehatan, ketenangan, maupun rezeki lain yang tidak bisa diukur dengan materi,” kata Ayu.
Hal senada diungkapkan Mursidi, ASN Banyuwangi dari Kelurahan Sobo. Ia mengaku ada rasa tenang yang muncul saat terlibat langsung membantu warga.
“Setelah memberi bantuan, perasaan saya jadi lebih tenang,” tutur Mursidi.
ASN lainnya, Ratna Juwita, merasa bangga sekaligus haru dengan program ini. Menurutnya, ASN Berbagi menumbuhkan rasa empati sekaligus menjadi pengingat bahwa masih banyak keluarga tidak mampu di sekitar mereka.
“Kami merasa inilah implementasi filosofi ‘Kalau kita sedih lihatlah ke bawah’. Bukan berarti merendahkan orang lain, tetapi mengingatkan kita agar mensyukuri setiap nikmat yang kita dapat,” ujar Ratna.
Program ASN Berbagi telah berjalan selama dua tahun. Setiap ASN mendapatkan data warga miskin melalui aplikasi Smart Kampung, berdasarkan data desil 1 dari Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Seiring waktu, program ini juga melibatkan lintas sektor seperti kepolisian, TNI, BUMN, BUMD, pengusaha, dan organisasi profesi di Banyuwangi. Sejak 2025, partisipasi masyarakat meluas, termasuk HIPMI, Kadin, Ikatan Dokter Indonesia, Ikatan Apoteker Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia, rumah sakit swasta, dan pengusaha konstruksi.
Dampak program ASN Berbagi terlihat dari tren penurunan angka kemiskinan di Banyuwangi. Data menunjukkan penurunan bertahap: 8,07 persen (2021); 7,51 persen (2022); 7,34 persen (2023); 6,8 persen (2024); hingga 6,13 persen di 2025, angka terendah sepanjang sejarah daerah.
Program ini tidak hanya meringankan beban warga miskin, tetapi juga menumbuhkan budaya gotong royong dan kepedulian sosial di kalangan ASN dan masyarakat Banyuwangi.(zul)




