Pelemahan tersebut mempercepat tren penurunan yang sudah terjadi sejak akhir pekan lalu. Sebelumnya, nilai tukar rial masih berada di kisaran 1.510.000 per dolar AS. Secara keseluruhan, sejak awal Januari 2026, rial telah kehilangan sekitar 5 persen nilainya.
Media Nour News melaporkan bahwa anjloknya rial dipicu oleh meningkatnya ketegangan internasional serta kebijakan ekonomi domestik Iran. Selain itu, fluktuasi pasar global dan melonjaknya permintaan mata uang asing di dalam negeri turut memperberat tekanan terhadap nilai tukar.
Pemerintah Iran berupaya meredam gejolak pasar dengan menunjuk kembali Abdolnaser Hemmati sebagai Gubernur Bank Sentral Iran. Ia menggantikan Mohammad-Reza Farzin yang sebelumnya mengundurkan diri dari jabatannya.
Hemmati dibebani tugas berat untuk menekan laju hiperinflasi, menstabilkan nilai tukar rial, serta mengatasi ketidakseimbangan sektor perbankan dan praktik korupsi ekonomi yang telah berlangsung lama. Meski demikian, ia menilai volatilitas nilai tukar sebagai sesuatu yang wajar dan menyebut pasar valuta asing bergerak mengikuti “alur alami”-nya.
Di sisi lain, kejatuhan nilai rial memicu ketegangan di dalam negeri. Pada bulan lalu, para pedagang di Grand Bazaar Teheran menutup toko-toko mereka sebagai bentuk protes terhadap merosotnya nilai mata uang nasional.
Aksi tersebut juga dipicu penolakan terhadap rencana pemerintah untuk menghapus sebagian subsidi makanan dan bahan bakar. Demonstrasi yang dimulai pada 28 Desember itu dengan cepat menyebar ke berbagai wilayah Iran dan berkembang menjadi aksi bernuansa politik, bahkan berujung kekerasan.
Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan tersebut, dengan menyebutnya sebagai provokasi asing. Situasi ini mencerminkan tekanan ekonomi yang semakin berat serta meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintah.(den)




