Ngopi Berlebihan Bisa Picu Cemas pada Gen Z

oleh -574 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Kecemasan yang banyak dialami mahasiswa dan generasi Z belakangan ini tidak selalu berarti gangguan psikologis. Namun, jika tidak dipahami dengan benar, kondisi ini bisa berdampak pada kesehatan mental dan performa akademik. Itu disampaikan Dekan Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Dr. Diah Sofiah, S.Psi., M.Si., Psikolog.

Menurutnya, kecemasan berbeda dengan rasa takut. Rasa takut memiliki objek yang jelas, sedangkan kecemasan muncul terhadap sesuatu yang belum pasti. “Kecemasan sebenarnya bentuk rasa takut, tetapi objeknya tidak spesifik. Justru karena tidak jelas, respons emosional menjadi lebih berat,” jelasnya.

Dalam psikologi, kecemasan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu state anxiety dan trait anxiety. State anxiety bersifat situasional dan sementara, seperti saat menghadapi ujian atau presentasi. Sementara trait anxiety berkaitan dengan kecenderungan kepribadian yang membuat seseorang lebih mudah merasa terancam dalam berbagai situasi.

Dr. Diah menjelaskan bahwa kecemasan melibatkan tiga komponen utama. Dari sisi kognitif, individu mengalami kekhawatiran berlebihan dan pikiran negatif berulang. Dari sisi fisiologis, tubuh merespons melalui jantung berdebar, keringat dingin, dan ketegangan otot. Sedangkan dari sisi perilaku, orang cenderung menghindari situasi yang memicu rasa cemas.

Meski sering dianggap negatif, kecemasan dalam kadar moderat justru bisa membantu meningkatkan fokus. Ia merujuk pada hukum Yerkes-Dodson yang menjelaskan bahwa tingkat kecemasan sedang dapat meningkatkan performa, sementara kecemasan terlalu tinggi justru menghambat.

Ia juga mengingatkan adanya siklus kecemasan. Siklus ini dimulai dari pemicu, muncul rasa tidak nyaman, lalu diikuti perilaku menghindar. “Penghindaran memang memberi rasa lega sesaat, tetapi dalam jangka panjang justru memperkuat kecemasan karena individu tidak belajar bahwa situasi itu sebenarnya bisa dihadapi,” ujarnya.

Baca Juga :  Resmikan Jalan Merak-Baluran Situbondo, Khofifah: Koneksitas Jadi Sarana untuk Sejahterakan Masyarakat

Budaya ngopi di kalangan mahasiswa turut menjadi perhatian. Menurut Dr. Diah, kebiasaan ini sering menjadi mekanisme koping yang keliru. Banyak mahasiswa datang ke kafe untuk mencari suasana baru dan melarikan diri dari tekanan akademik, bukan sekadar menikmati kopi. “Kafe dipersepsikan sebagai ruang aman, tetapi sering kali itu bentuk penghindaran dari tugas. Akhirnya tugas menumpuk dan kecemasan makin meningkat,” jelasnya.

Dari sisi klinis, ia menambahkan bahwa dalam DSM-5 dikenal kondisi caffeine intoxication dan caffeine withdrawal. Konsumsi kafein berlebihan dapat memperburuk gejala seperti jantung berdebar, gelisah, dan gangguan tidur yang pada akhirnya memperparah kecemasan.

Dr. Diah berharap mahasiswa dapat memahami kecemasan secara ilmiah, mengenali pola penghindaran yang tidak sehat, serta mulai membangun strategi koping yang lebih adaptif agar mampu menghadapi tuntutan akademik dan kehidupan sehari-hari dengan lebih seimbang.(tok)

No More Posts Available.

No more pages to load.