Tentang Child Grooming, Dosen Psikologi Ubaya Ungkap Pola Manipulasi Pelaku

oleh -535 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Ramainya perbincangan di media sosial terkait kasus child grooming yang diungkap seorang artis Indonesia kembali menyoroti bahaya manipulasi seksual terhadap anak dan remaja. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Yuan Yovita Setiawan, M.Psi., Psikolog, mengungkap alur manipulasi yang lazim digunakan pelaku untuk menguasai korban.

Yuan menjelaskan, pelaku child grooming umumnya menjalankan tahapan manipulasi yang dikenal sebagai Sexual Grooming Mode (SGM), sebuah model yang diperkenalkan oleh peneliti Georgia M. Winters dan Elizabeth L. Jeglic. “Pelaku akan memilih individu yang rentan dan lemah secara psikologis. Misalnya penurut, kurang pengawasan dan perhatian orang tua, membutuhkan kasih sayang, memiliki masalah perilaku, atau merasa kesepian,” ujar Yuan.

Setelah menentukan target, pelaku mulai membangun akses dengan cara menciptakan interaksi intens dan perlahan mengisolasi korban dari lingkungan sekitarnya. Pada tahap ini, pelaku menampilkan sikap sangat perhatian dan suportif guna membangun kepercayaan korban. “Ketika kepercayaan sudah terbentuk dan pelaku merasa memegang kendali, korban mulai dibiasakan dengan konten seksual maupun kontak fisik. Korban dibuat berpikir seolah paparan dan kekerasan seksual itu sesuatu yang normal,” jelasnya.

Tahap terakhir, lanjut Yuan, adalah pemeliharaan relasi manipulatif setelah terjadinya kekerasan seksual. Pelaku membungkam korban melalui berbagai cara, mulai dari pemberian kompensasi hingga ancaman.

Dosen yang menaruh perhatian pada isu tumbuh kembang dan adverse childhood experience ini menegaskan, relasi manipulatif tersebut sangat sulit diputus, terutama ketika korban sudah sepenuhnya bergantung secara emosional maupun psikologis pada pelaku. “Pelaku kerap menggunakan komunikasi manipulatif dengan menanamkan rasa bersalah pada korban. Akhirnya korban merasa bingung, ragu, dan menganggap dirinya tidak berhak mempertanyakan pengalaman buruk yang dialaminya,” kata Yuan. Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat korban merasa ada yang tidak benar, tetapi tidak memiliki kemampuan maupun keberanian untuk melawan atau keluar dari situasi tersebut.

Baca Juga :  Harga BBM Non-Subsidi Swasta Naik, Ini Perbandingan Harganya

Child grooming sendiri merupakan pendekatan manipulatif yang dilakukan individu dewasa dengan tujuan melakukan kejahatan seksual terhadap anak atau remaja di bawah umur demi kepuasan pribadi. Praktik ini dipandang tidak pantas secara moral karena adanya ketimpangan relasi kuasa antara orang dewasa yang matang dan anak atau remaja yang masih rentan secara biologis dan psikologis.

Meski indikasi child grooming tidak selalu terlihat secara kasat mata, Yuan menekankan pentingnya upaya pencegahan melalui kolaborasi orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar. “Orang tua perlu mengajarkan batasan tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain, sekaligus membangun komunikasi yang terbuka dan empatik dengan anak,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk lebih peka terhadap interaksi yang mencurigakan antara anak atau remaja dengan orang dewasa. “Yang paling penting, kita harus lebih peduli dengan anak dan remaja di sekitar kita, serta berani menelisik lebih jauh jika ada tanda-tanda relasi yang tidak sehat,” pungkas Yuan.(tok)

No More Posts Available.

No more pages to load.