Ketua DPD RI Pertanyakan Gelar, Lia Istifhama Beber Jejak Multikampus

oleh -470 Dilihat
oleh

KILASJATIM.COM, Jakarta – Momen tak biasa terjadi dalam Sidang Paripurna DPD RI, Kamis (15/1/2026). Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin secara terbuka mempertanyakan deretan gelar akademik yang disandang Senator Jawa Timur Dr. Lia Istifhama, S.H., S.H.I., M.E.I.

Pertanyaan itu muncul untuk memperjelas asal-usul gelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I) dan Magister Ekonomi Islam (M.E.I) yang melekat pada sosok yang akrab disapa Ning Lia.

Sultan meminta penjelasan langsung di forum resmi paripurna. Lia pun merespons dengan memaparkan perjalanan akademiknya yang ditempuh lintas kampus dan lintas disiplin.

Ia menjelaskan, sejak jenjang sarjana telah menempuh pendidikan di lebih dari satu perguruan tinggi sebelum melanjutkan studi magister dan doktoral di bidang ekonomi Islam.

Penelusuran rekam akademik menunjukkan, Lia menjalani kuliah di tiga institusi sekaligus pada jenjang S1. Ia tercatat sebagai mahasiswa Sosiologi Universitas Airlangga (Unair), Sosiologi Islam UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), serta Hukum Islam di STAI Taruna Surabaya melalui kelas malam.

Lia diterima di Unair melalui jalur UMPTN—kini dikenal sebagai SNBT—dan dalam waktu hampir bersamaan juga diterima di UINSA yang berada di bawah Kementerian Agama. Sementara kuliah di STAI Taruna dijalani di luar jam perkuliahan reguler.

Kombinasi tersebut membuat Lia mengantongi latar pendidikan multidisiplin sejak awal. Di tengah padatnya aktivitas akademik, ia juga diketahui sempat mengajar kursus privat.

Rekam jejak itu dibenarkan Hery Prasetyo, rekan seangkatan Lia di Sosiologi Unair angkatan 2002. Menurutnya, Lia dikenal aktif dan menonjol dalam diskusi akademik.

“Di kelas dan kegiatan lapangan, Lia sangat aktif. Banyak perspektifnya yang justru membuka sudut pandang baru,” kata Hery, yang kini menempuh studi doktoral di University of Sydney.

Baca Juga :  Tingkatkan Pelayanan Publik, Kapolda Jatim Serahkan Mobil Shuttle Semeru SPKT

Ia menilai perhatian Lia pada isu ekonomi mikro, masyarakat miskin perkotaan, dan kelompok marginal sudah terlihat sejak bangku kuliah. Latar belakang keluarga pesantren Nahdliyin yang berpadu dengan lingkungan politik turut memperkaya cara pandangnya.

Pandangan serupa disampaikan Arifulinnuha, rekan kuliah Lia di UINSA. Ia menyebut aktivitas Lia sejak mahasiswa memang padat dan konsisten.

Menurut para koleganya, substansi utama dari perjalanan akademik tersebut bukan sekadar banyaknya gelar, melainkan kemampuan mengombinasikan pendekatan multidisiplin dalam kerja kebijakan.

Penjelasan itu sekaligus menjawab rasa penasaran pimpinan DPD RI dan publik. Gelar S.H.I dan M.E.I yang disandang Lia Istifhama mencerminkan proses akademik panjang yang kini menjadi bekal dalam perannya sebagai senator di Senayan. (FRI) 

No More Posts Available.

No more pages to load.