Distribusi Kartu Nusuk di Indonesia Demi Kelancaran Haji

oleh -171 Dilihat
oleh
Foto: Ilustrasu-Dok /istimewa

KILASJATIM.COM, Jakarta – Kartu pintar atau smart card Nusuk bagi jamaah haji Indonesia rencananya akan didistribusikan sejak jamaah masih berada di Tanah Air. Kebijakan ini disiapkan untuk memberi kepastian akses sekaligus ketenangan psikologis jamaah sebelum berangkat ke Arab Saudi.

Staf Teknis Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, Hasyim Hilaby, mengatakan kartu Nusuk menjadi dokumen penting yang menentukan legalitas jamaah selama menjalankan ibadah haji.

“Dengan memegang kartu Nusuk sejak dari Indonesia, jamaah dipastikan memiliki akses resmi ke wilayah-wilayah krusial peribadatan, seperti Makkah, Madinah, hingga Arafah saat puncak haji,” katanya di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Hasyim menjelaskan, Nusuk bukan sekadar kartu identitas. Kartu ini berfungsi sebagai alat penyaring agar tidak ada jamaah ilegal yang masuk dan mengganggu pergerakan jamaah haji resmi, khususnya di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Distribusi kartu Nusuk di Indonesia dinilai lebih efektif dibandingkan pembagian setibanya di Arab Saudi. Skema ini diharapkan bisa memangkas persoalan teknis yang selama ini kerap muncul di Tanah Suci, sehingga jamaah dapat langsung fokus beribadah tanpa dibebani urusan administrasi.

Selain distribusi, aktivasi kartu Nusuk juga direncanakan dilakukan sejak dini di Indonesia. Namun, jika terjadi kendala teknis atau gangguan sistem di Arab Saudi, tim teknis telah disiagakan untuk memberikan pendampingan langsung di lapangan.

Hasyim menambahkan, persaingan antar syarikah atau perusahaan penyedia layanan haji di Arab Saudi saat ini justru berdampak positif bagi jamaah. Para penyedia layanan berlomba meningkatkan kualitas pelayanan, termasuk dalam integrasi sistem Nusuk.

Menanggapi kekhawatiran jamaah, khususnya lansia, terkait digitalisasi layanan haji, Hasyim menegaskan penggunaan aplikasi Nusuk di ponsel tidak bersifat wajib bagi jamaah haji reguler.

Baca Juga :  Atap Asrama Pesantren Ambruk di Situbondo, Kemenag Salurkan Bantuan Rp200 Juta

“Aplikasi di ponsel hanya sebagai cadangan. Yang utama tetap kartu Nusuk fisik,” ujarnya.

Aplikasi Nusuk berfungsi sebagai backup dalam kondisi darurat, misalnya jika jamaah terpisah dari rombongan atau lupa membawa kartu fisik. Namun, untuk akses utama ibadah dan mobilitas, kartu fisik tetap menjadi instrumen utama.

Hasyim menambahkan, identitas jamaah haji Indonesia pada praktiknya juga mudah dikenali melalui seragam batik khas yang sudah familiar bagi petugas keamanan Arab Saudi. Karena itu, fokus utama pengamanan tetap pada penyaringan jamaah ilegal, bukan pada penggunaan aplikasi semata.

Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi kekhawatiran jamaah, sehingga mereka dapat berangkat ke Tanah Suci dengan persiapan mental yang lebih tenang dan fokus beribadah.(cit)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.