Kepala BPS Jatim, Zulkipli dalam Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Jatim, Senin (5/1). (ist/dok)
KILASJATUM.COM, Surabaya – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat, pada Desember 2025 Provinsi Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,76 persen secara bulanan (month to Month/m-to-m) pada Desember 2025. Atau akhir tahun terjadi inflasi year on year (y-on-y) di Jatim sebesar 2,93% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,25.
Kepala BPS Jatim, Zulkipli menyampaikan, inflasi tertinggi terjadi di Sumenep sebesar 3,75% dengan IHK 113,82, dan inflasi terendah terjadi di Kab. Gresik 2,44% dengan IHK sebesar 108,32.
“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,19%, kelompok pakaian dan alas kaki 0,63%,” ujar Zulkipli di kantor BPS Jatim Surabaya.
Sementara itu, inflasi tahun ke tahun (year on year/y-on-y) tercatat mencapai 2,93 persen. Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan emas perhiasan menjadi faktor utama pendorong inflasi di akhir tahun.
Berdasarkan data perkembangan inflasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi tertinggi sebesar 1,80 persen dengan andil inflasi 0,49 persen.
Selain itu, kelompok transportasi dan perawatan pribadi serta jasa lainnya juga memberikan kontribusi signifikan terhadap laju inflasi Desember 2025.
“Secara komoditas, cabai rawit menjadi penyumbang inflasi terbesar akibat pemutaran harga yang tajam. Komoditi lain yang ikut mendorong inflasi antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, serta bensin. Kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan pasokan akibat curah hujan tinggi, peningkatan permintaan akhir tahun, hingga perkembangan harga global”, jelasnya.
Sepanjang tahun 2025, dinamika inflasi juga dipengaruhi oleh sejumlah kebijakan dan kondisi eksternal. Kenaikan harga emas global turut memicu penyesuaian harga emas perhiasan di dalam negeri. Sementara itu, penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dilakukan secara berkala sepanjang tahun memberi tekanan pada inflasi di beberapa bulan tertentu.
Ia menambahkan, selanjutnya disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,49%, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,30%, kelompok kesehatan 2,08%, kelompok transportasi 1,82%, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya 0,96%, kelompok pendidikan 1,74%, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,18%, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 15,26%.
Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,53%.
Di sisi lain, pemerintah berupaya menahan laju inflasi melalui berbagai kebijakan, seperti diskon tarif listrik PLN bagi pelanggan rumah tangga berdaya rendah pada awal tahun 2025 serta stimulus diskon tarif angkutan umum yang diberikan pada momen tertentu, seperti Ramadhan, Idulfitri, Natal, dan Tahun Baru. Kebijakan tersebut dinilai mampu membantu menjaga daya beli masyarakat.
Meski begitu, tekanan inflasi berhasil ditahan oleh beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga. Cabai merah dan beras tercatat mengalami deflasi pada Desember 2025, sehingga membantu menahan laju inflasi yang lebih tinggi.
Secara keseluruhan, inflasi Jawa Timur pada Desember 2025 mencerminkan kombinasi pengaruh faktor musiman, kondisi cuaca, dinamika harga global, serta kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas. (nov)




