KILASJATIM.COM, Surabaya – Kiai Haji Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah kembali dipercaya memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur. Ulama kharismatik asal Probolinggo tersebut terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum MUI Jatim periode 2026–2031 dalam Musyawarah Daerah (Musda) XI MUI Jawa Timur yang digelar di Surabaya, 2025.
Terpilihnya kembali KH Mutawakkil menegaskan kepercayaan penuh para peserta Musda terhadap kepemimpinannya dalam memperkuat peran MUI sebagai garda moral umat sekaligus mitra strategis pemerintah daerah.
Dalam sambutannya, KH Mutawakkil menegaskan Musda bukan sekadar agenda rutin lima tahunan, melainkan momentum strategis untuk melakukan refleksi, evaluasi, serta peneguhan arah perjuangan MUI Jawa Timur ke depan.
“Dalam khittah organisasi, MUI Jawa Timur senantiasa memegang dua peran utama, yakni sebagai khadim al-ummah (pelayan umat) dan shadiq al-hukumah (mitra pemerintah). Dua peran ini harus berjalan seiring, saling menguatkan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat,” tegasnya.
Sebagai pelayan umat, lanjut KH Mutawakkil, MUI Jatim berkomitmen memberikan bimbingan keagamaan, memperkuat akidah dan akhlak, menerbitkan fatwa, serta mendampingi masyarakat dalam menghadapi dinamika sosial yang terus berkembang.
“Kehadiran MUI harus memberikan tuntunan yang menenteramkan, edukatif, dan solutif bagi masyarakat,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, tersebut.
Sementara itu, Ketua Umum MUI Pusat KH Anwar Iskandar memberikan apresiasi atas capaian kepengurusan MUI Jawa Timur pada periode sebelumnya. Menurutnya, kinerja MUI Jatim di bawah kepemimpinan KH Mutawakkil layak dipertahankan dan ditingkatkan.
“Pengabdian di MUI sarat dengan nilai ibadah dan kemaslahatan. Tidak hanya berdampak di dunia, tetapi juga menjadi investasi akhirat,” tuturnya.
KH Anwar menegaskan, MUI merupakan wadah berhimpunnya para ulama dari berbagai latar belakang organisasi kemasyarakatan Islam dengan satu tujuan besar, yakni menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa dan negara.
“Sehebat apa pun tujuan, jika tidak dilakukan dengan cara yang baik, tidak akan menghasilkan kebaikan. MUI harus terus melayani umat dan menjadi mitra terbaik bagi pemerintah,” katanya.
Ia juga mengingatkan tantangan MUI ke depan semakin kompleks, mulai dari upaya menyejahterakan umat, memerangi kebodohan dan kemiskinan, hingga menghadapi dampak negatif digitalisasi yang kini menjadi medan jihad di era modern.
“Masa depan anak cucu kita harus diselamatkan. Karena itu, penguatan program peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi prioritas utama MUI,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya sinergi antara ulama dan umara dalam pembangunan daerah.
“Ulama berperan sebagai penjaga moral dan penuntun umat, sementara umara bertanggung jawab merumuskan dan menjalankan kebijakan publik. Ketika ulama dan umara berjalan seiring dan saling menguatkan, insyaallah pembangunan tidak hanya berorientasi pada kemajuan material, tetapi juga kokoh secara spiritual dan sosial,” ujar Khofifah.(ara)


