KILASJATIM.COM, Surabaya — Angka perceraian di Jawa Timur terus menanjak dan kini mencapai puluhan ribu kasus setiap tahun. Kondisi ini dinilai bukan lagi masalah rumah tangga semata, melainkan sudah menjadi alarm sosial yang berdampak luas.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menyebut tren perceraian di Jatim terus meningkat berdasarkan data sejumlah Pengadilan Agama. Gugatan cerai dari pihak istri maupun permohonan talak suami sama-sama menunjukkan kenaikan.
“Ini menunjukkan persoalan serius dalam ketahanan keluarga. Dampaknya bukan hanya pada pasangan, tapi juga anak, ekonomi keluarga, dan stabilitas sosial,” kata Lia di Surabaya, Jumat (26/12/2025).
Senator yang akrab disapa Ning Lia itu menyebut pemicu perceraian beragam. Faktor ekonomi, kesiapan mental yang minim, konflik berkepanjangan, hingga pengaruh media sosial kerap menjadi pemantik runtuhnya rumah tangga.
Di sisi lain, ia menyoroti kontrasnya narasi di ruang publik. Saat angka perceraian tinggi, media sosial justru ramai dengan kampanye ajakan menikah bernuansa romantis.
“Ajakan menikah baik, tapi harus dibarengi edukasi pra-nikah yang realistis. Jangan hanya mendorong menikah tanpa membekali kesiapan menghadapi dinamika rumah tangga,” tegasnya.
Ning Lia mendorong penguatan bimbingan perkawinan, konseling keluarga, dan literasi ketahanan rumah tangga, terutama bagi generasi muda.
Menurutnya, peran negara diperlukan tidak hanya dalam urusan legal, tetapi juga pencegahan konflik sejak awal.
“Pernikahan bukan sekadar seremoni. Kalau perceraian terus naik, berarti pembinaan keluarga perlu dibenahi dari hulu ke hilir,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak pasangan menikah tanpa kesiapan mental dan ekonomi yang memadai. Dampaknya, anak menjadi pihak paling rentan, perempuan terdampak secara ekonomi, dan beban sosial ikut meningkat.
“Menikah itu ibadah sekaligus amanah. Jangan hanya viral ajakan menikah, sementara data perceraian terus naik,” pungkasnya. (FRI)




