Kiri ke kanan: Dr. Jeffri Ardiyanto, M. App. Sc., Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Mulia Lie, Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., Kepala Badan POM RI dr. William Adi Teja, B.M.S, MD., Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Prekursor dan Zat Adiktif, BPOM RI Haendra Subekti S.T., M.T, Deputi Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir Bapeten, saat paparan kepada media di Sidoarjo usai peresmian, Senin (15/2/2025).(kilasjatim.com/nova)
KILASJATIM.COM, Sidoarjo – PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui anak usaha PT Global Onkolab Farma (GOF) meresmikan dimulainya operasionalisasi fasilitas produksi radioisotop dan radiofarmaka, khususnya Fluorodeoxyglucose (FGD), untuk keperluan deteksi dini penyakit kanker.
Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Mulia Lie menyampaikan, tujuannya untuk memperkuat deteksi dini kanker di Indonesia dalam menunjang layanan diagnosis kanker berbasis teknologi pencitraan medis tingkat lanjut.
“Ini bagian dari komitmen Kalbe untuk terus memperluas akses kesehatan bagi masyarakat, terutama dalam penanganan penyakit kanker. Saat ini, PT GOF telah membangun dua fasilitas, yaitu di Jakarta dan Sidoarjo (Jawa Timur,” ujar Mulia Lie saat peresmian Senin (15/12/2025)
Ditambahkan Mulia Lie , penyakit kanker makin parah dan berkembang. Sesuai dengan Kementerian Kesehatan, ini menjadi bagian penting bagi perusahaan untuk membuka support dalam penyediaan FDG.
Produksi FDG ini ditujukan untuk menunjang layanan pemeriksaan Positron Emission Tomography and Computed Tomography Scanning (PET/CT-Scan) di rumah sakit. Pemeriksaan PET/CT-Scan merupakan teknologi pencitraan medis yang memberikan gambaran detail mengenai fungsi organ dan sistem tubuh, terutama untuk mendeteksi kanker sejak dini.
“PET/CT-Scan adalah pemeriksaan pencitraan medis tingkat lanjut yang memberikan informasi mendetail tentang fungsi organ atau sistem dalam tubuh, khususnya untuk mendeteksi adanya penyakit kanker. Pelayanan PET/CT-Scan berkaitan erat dengan ketersediaan radiofarmaka, salah satunya FDG (Fluorodeoxyglucose). Sayangnya, fasilitas produksi produk radioisotop dan radiofarmaka dalam negeri yang tersertifikasi masih sangat terbatas,” jelasnya.
Seremoni penanaman pohon tabebuya di area depan loby pabrik di Sidoarjo (kilasjatim.com/nova)
Lebih lanjut, Mulia Lie mengatakan bahwa fasilitas produksi radiofarmaka yang memproduksi Fluorodeoxyglucose (FGD) ini sangat diperlukan untuk menunjang layanan pemeriksaan Positron Emission Tomography and Computed Tomography Scanning (PET/CT-Scan) yang ada di rumah sakit. Ia berharap produksi radiofarmaka Kalbe dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah sakit dalam pemeriksaan PET/CT-Scan sekaligus membantu memperluas akses ke lebih banyak pasien kanker untuk menjalani terapi kanker secara komprehensif.
“Radiofarma produksi dalam negeri ini merupakan wujud nyata kontribusi perusahaan untuk kemandirian kesehatan di Indonesia. Melalui fasilitas produksi di Sidoarjo Jawa Timur ini, kami ingin memastikan bahwa rumah sakit di Jawa Timur, Bali, hingga Sulawesi, dapat memperoleh radiofarmaka secara lebih cepat dan terjangkau,” jelas Mulia Lie.
Kanker menjadi salah satu penyebab kesakitan dan kematian utama di Indonesia, tetapi sebagian besar penderita kanker datang ke rumah sakit ketika memasuki stadium akhir. Untuk itu, perlu upaya memperkuat deteksi dini terhadap penyakit kanker.
“Saat ini Kalbe telah menjalin kerja sama dengan sejumlah rumah sakit untuk pemanfaatan radiofarmaka, tidak terbatas pada tatalaksana kanker/onkologi saja, namun diharapkan dapat digunakan untuk penilaian jantung, neurologi, alzheimer, gangguan psikiatri/mental serta di bidang-bidang lain di dunia kedokteran,” tutur Mulia Lie.
Ditambahkan Mulia Lie, kerja sama antara Kalbe dengan pihak rumah sakit dapat memberikan nilai tambah pada layanan Oncology Center, yang ada di rumah sakit, seperti penyediaan dan pengembangan berbagai macam obat kemoterapi, layanan radioterapi dengan mempersiapkan penyediaan radiofarmaka untuk mendukung layanan PET/CT-Scan ke depannya, serta layanan kanker lainnya seperti produk nutrisi untuk perawatan kanker,” paparnya.
Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Jeffri Ardiyanto berharap kehadiran fasilitas produksi di Sidoarjo dapat memperluas akses layanan kesehatan, terutama bagi rumah sakit yang memiliki keterbatasan.
“Ini menjawab kemudahan akses. Bayangkan kalau di Jakarta sampai ke Indonesia Timur di Surabaya. Jadi tidak hanya berkualitas tapi mudah diakses. Kementerian Kesehatan RI mendorong percepatan produksi dan distribusi radiofarmaka sebagai bagian dari program nasional untuk menekan angka kematian akibat kanker di Indonesia,” pungkas Jeffri. (nov)




