KILASJATIM.COM, Surabaya – Maraknya kasus peretasan data penyebaran konten bermuatan ancaman, hingga paparan radikalisme pada pelajar mendorong pentingnya penguatan literasi keamanan siber. Hal itu mengemuka dalam Diskusi Literasi Keamanan Siber yang digelar pada Jumat, 5 Desember yang diinisiasi oleh Penggerak Perdamaian dengan menghadirkan Achmad Reza Rafsanjani, Pegiat Media Sosial sekaligus Duta Damai Dunia Maya Jawa Timur.
Dalam pemaparannya, Reza menekankan perlunya penerapan empat pilar literasi digital, yaitu keterampilan digital, budaya digital, etika digital, dan keamanan digital. “Hari ini semua diakses lewat ruang digital. Kalau masyarakat tidak punya keterampilan memilah dan memilih informasi, maka potensi terjebak hoaks dan ancaman sangat besar,” ujarnya.
Reza juga menyatakan keprihatinannya terhadap merosotnya etika digital, yang menurutnya semakin terlihat dari perilaku warganet. “Pengguna media sosial hari ini semakin mudah menghakimi, mencaci, dan menjatuhkan orang lain. Polarisasi ini sangat memprihatinkan,” katanya.
Aspek keamanan digital disebutnya sebagai persoalan paling krusial karena banyak pengguna masih mengklik tautan sembarangan. “Kita ini kadang asal klik saja. Dari situ kebocoran data bisa terjadi. Bahkan data nasional saja pernah bocor, apalagi data individu,” ucapnya.
Ia mendorong Kementerian dan Dinas terkait untuk lebih aktif melakukan edukasi kepada masyarakat. “Program literasi digital harus benar-benar turun ke kampus, sekolah, dan organisasi kepemudaan. Ini mendesak karena ancaman digital makin kompleks,” tambahnya.
Reza berharap anak-anak muda sebagai generasi “cyber genz” dapat lebih proaktif memahami risiko digital. “Mereka bisa mengakses apa pun, tapi harus dibarengi kesadaran dan kemampuan menjaga diri di ruang digital,” tambahnya.
Melalui diskusi tersebut, Reza menilai perlunya sinergi antara pemerintah, komunitas digital, dan lembaga pendidikan untuk menciptakan ruang maya yang aman. “Kalau tidak ada literasi, maka ancaman phishing, spam, hingga radikalisasi akan terus menghantui. Kita semua harus terlibat,” tuturnya.

