KILASJATIM.COM, Surabaya – Program pemberdayaan perempuan di Kecamatan Wonocolo mencatat capaian penting melalui panen perdana ikan nila yang digelar di Taman Teman, Jemursari V, Surabaya. Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek hibah Direct Aid Program (DAP) 2024/2025 Pemerintah Australia yang dijalankan tim dosen Petra Christian University (PCU).
Proyek berjudul “Pemberdayaan Perempuan di Kecamatan Wonocolo Melalui Budidaya dan Pengolahan Ikan Nila dan Sayur Organik Dengan Recirculating Aquaculture System” ini dikelola oleh Hanjaya Siaputra, S.E., M.A. (Ketua Tim), bersama Dr. Ir. Ekadewi Anggraini Handoyo, M.Sc., dan Julius Sentosa Setiadji, S.T., M.T.
Hanjaya menegaskan bahwa keberhasilan panen ini berdiri di atas semangat ibu-ibu Kelompok Tani Serpis Kebun Kita. “Inti dari program ini memang pemberdayaan perempuan. Mereka sudah mengikuti pelatihan lengkap, mulai dari operasional aquaponik, pengolahan ikan dan sayuran, pembukuan, pemasaran digital, hingga manajemen batin untuk kesiapan mental dan spiritual,” ujarnya.
Menurutnya, sejak 2018 kelompok Serpis fokus pada hidroponik. “Sudah waktunya naik kelas. Pengembangan aquaponik ini untuk peningkatan ekonomi, ketahanan pangan, dan kesehatan masyarakat,” tambahnya.
Sistem budidaya yang diberikan tim PCU menggunakan teknologi Bio-RAS-ponic, sebuah sistem resirkulasi air dengan filter mekanis dan biologis. “Sistem ini hemat air, ramah lingkungan, dan menghasilkan ikan tanpa bau tanah, cepat besar, tinggi omega 3 dan 6, sekaligus menyuburkan tanaman hidroponik,” jelas Hanjaya.
Pada panen perdana ini juga digelar lelang ikan nila per serok. Seluruh hasilnya akan menjadi tambahan modal usaha kelompok agar program tetap berkelanjutan. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Ketua Tim Penggerak PKK Surabaya, Rini Indriyani, dijadwalkan hadir mendukung kegiatan tersebut.
Retno Winarni, perwakilan Kelompok Tani Serpis, berharap program ini berlanjut dengan dukungan lintas pihak. “Kami berharap dukungan Pemkot terkait izin edar, bibit, pemasaran, dan lahan replikasi. Dari Konjen Australia kami berharap pendampingan teknologi. Dari dunia usaha kami butuh kemitraan, dan dari perguruan tinggi kami butuh pengembangan teknologi dan pendampingan berkelanjutan,” ujarnya.
Rektor PCU, Prof. Rolly Intan, menekankan pentingnya sinergi. “Ini bukti nyata bahwa kolaborasi tulus antar lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat membawa perubahan besar. Kami ingin memastikan ilmu tidak hanya tinggal di kelas, tetapi hidup di tengah masyarakat dan membawa dampak positif,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan potensi ekonomi dari program tersebut. “Saya mendapat info bahwa satu kolam menampung hingga 1.200 ikan nila, dan sudah ada empat kolam. Setelah panen ini, jangan hanya dijual ke warga, tetapi juga ke sektor industri seperti hotel agar benar-benar menjadi padat karya,” ujarnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada PCU. “Terima kasih untuk UK Petra atas inovasi yang mendukung kemandirian ekonomi masyarakat Surabaya. Kolaborasi ini bukti bahwa kampus dan pemerintah harus berjalan bersama,” kata Eri.
Ia menutup dengan permintaan pendampingan berkelanjutan: “Tolong dampingi kami. Kawasan ini biarkan menjadi wilayah pendampingan UK Petra. Agar terlihat bahwa Wali Kota tidak bergerak sendiri, tetapi bersama perguruan tinggi dan masyarakat.” Panen perdana ini menjadi bukti bahwa ibu-ibu Serpis mampu menguasai teknologi Bio-RAS-ponic dengan baik. Hanjaya berharap keberhasilan ini menjadi model bagi kecamatan lainnya di Surabaya.(tok)
