KILASJATIM.COM, Malang – Film menjadi media alternatif meningkatkan perekonomian. Seperti film Laskar Pelangi yang berhasil menjadikan Pulau Bangka Belitung menjadi tujuan wisata yang masuk dalam wishlist. Keberhasilan ini mendorong insan perfilman Malang untuk memproduksi film serupa. Mengingat kota dingin ini memiliki potensi yang sama, hanya belum digalih sepenuhnya.
“Belajar dari film tersebut, kami ingin membuat film yang sama. Mengangkat kekayaan alam untuk meningkatkan sektor ekonomi dan pemberdayaan umkm. Setting film tersebut akan ambil di wilayah Malang raya. Saya berharap film itu berdampak secara ekonomi pada masyarakat. Selama ini orang hanya melihat Batu saja, sementara Malang kota dan kabupaten tidak kalah menarik,” kata Vicky Arief Herinadha, Ketua Harian Indonesian Creatif City Network (ICCN) dalam acara jumpa pers kegiatan UKW Ke-59 yang diselenggarakan PWI Malang Raya di Kampus C, Universitas Insan Budi Utomo, Sabtu (29/11/2025) siang tadi.
Menurut pekerja seni yang pernah memproduseri film Darah Biru Arema, pembuatan film tersebut terinpirasi dari film Laskar Pelangi, sebuah film yang diangkat dari novel Andrea Hirata dan di produseri Mira Lesmana. Film bercerita tentang persahabatan dan perjuangan meraih impian, dengan setting Pulau Belitung yang cantik akan panorama alam.
Film besutan sutradara Riri Riza ini juga sukses dinobatkan film terlaris yang ditonton 4,6 juta mata. Juga berhasil membuat Belitung terkenal hingga menjadi jujuga wisatawan yang ingin melihat secara langsung lokasi syuting film tersebut.
Tingginya kunjungan wisatawan turut mendorong sektor ekonomi warga sekitar. Membangkitkan industri kreatif, dari kerajinan sampai olahan makanan.
Kesuksesan inilah yang mendorong produser film Es Teh Hangat untuk memproduksi film serupa. Pengambilan gambarnya dilakukan di Batu, Malang kota dan Kabupaten. Meski tidak menjelaskan secara rinci sejumlah riset lokasi syiting telah ditentukan diantaranya di Kawasan Kayutangan Heritage yang menjadi ikon kota Malang.
Mengenai industry kreatif, Malang tidak perlu diragukan. Kota Pendidikan ini, gudangnya. Setiap tahun melahirkan generasi kreatif dari jenjang perguruan tinggi maupun SMK. Ia juga menyampaikan, kota yang dijuluki Paris Van Java ini memiliki 60 perguruan tinggi dan SMK yang membuka jurusan media art.
“Meski kota ini tidak memiliki sumberdaya alam, tapi kita memiliki sumberdaya manusia. Bahkan sampai sepuluh tahun kedepan. Kita punya perguruan tinggi dan sekolah kejuruan dengan jurusan media art. Sebab itu saya yakin kota ini tidak akan kehabisan orang kreatif” tutupnya. (TQI)
