Harga Daun Sla Meroket, Pedagang Tahu Campur di Malang Menjerit

oleh -695 Dilihat
oleh
Pedagang Tahu Campur menjerit akibat Harga Sayuran Daun Sla meroket 300 persen dari Rp 15 ribu/kh menjadi Rp 62 ribu/kg. (Foto: Titik Q/kilasjatim)

KILASJATIM. COM, Malang– Seiring datangnya musim penghujan membuat harga sayuran merangkak naik. Membuat pedagang lalapan dan tahu campur tercekik.

Salah satu pedagang Tahu Campur, Dondik mengaku harga beli sayur selada atau daun sla yang menjadi salah satu bahan penting dalam jualannya bukan mengalami kenaikan harga melainkan berganti harga. Menurutnya kenaikannya per kilo mencapai Rp47 ribu.

“Harga selada bukan hanya naik tapi berubah. Biasanya sekilo lima belas ribu sekarang enam puluh dua ribu. Semoga besok tidak naik lagi,” kata priayang akrab disapa Pak Ndut, pedagang tahu campur yang mangkal di depan Pasar Tawangmangu, Malang saat ditemui, Rabu (12/11/2025).

Harga Sayuran Daun Sla meroket 300 persen dari Rp 15 ribu/kh menjadi Rp 62 ribu/kg. (Foto: Titik Q/kilasjatim)

Meski sayur selada mengalami kenaikan hampir 300 persen, ia tak punya pilihan, sebab selada menjadi sayur utama tahu campur selain kecambah. Untuk menyiasati kenaikan harga selada ia mencampur dengan sawi putih.

Kenaikan harga Selada atau daun sla (Lactuca sativa), tumbuhan sayur yang biasa ditanam di daerah beriklim sedang maupun daerah tropis, karena curah hujan yang tinggi. Terutama hujan dimalam hari, seperti yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Menurut Gisan, pedagang sayur di Jl. Sendang Biru, kenaikan harga sla, karena faktor alam. Sebab tanaman tersebut mudah busuk jika terkena air hujan. Terutama hujan di malam hari.

Ia juga menjelaskan, harga sayur-mayur yang mengalami lonjakan bukan hanya sla, juga sawi. Sebelum musim penghujan seperti sekarang seikat sawi hanya Rp. 1. 000 – Rp. 1.500. Sekarang seikat kecil sawi isi enam pohon ukuran kecil Rp.2.500 sedang ukuran lebih besar Rp. 5.000. Begitu pula dengan harga seledri yang biasanya satu kilo hanya Rp 8.000 kini tembus Rp.25.000 per kilonya.

Baca Juga :  Top, Barata Indonesia Terus Pertahankan TKDN 56,96% Produk Andalan Perseroan

“Seperti pengalaman sebelumnya, pada musim penghujan, kenaikan harga satu sayur akan diikuti sayur lain. Lihat saja harga bayam, tomat dan cabe pasti akan naik sebentar lagi,” terangnya.

Sejauh ini harga seikat bayam masih seribu rupiah. Jika musim panen sayur, tiga ikat bayam hanya Rp.2.000 saja.

Sementara, untuk sayuran di musim penghujan yang harganya tidak ikut naik kangkung, selada air dan kecambah yang harganya relatif stabil.

Menyiasati kenaikan harga sla, Nuraeni, penjual lalapan di Jl. Lembang, mengaku mengganti sla dengan kubis dan timun. Selain harganya terjangkau juga disukai konsumen.

“Kita harus pandai-pandai mencari penggantinya, jangan sampai rugi. Yang penting ada lalapan sayur nya. Kalau ada yang tanya, tinggal bilang, harga nya masih mahal. Kalau sudah normal ya kembali lagi pakai sla,” ungkapnya. (TQI)

No More Posts Available.

No more pages to load.