KILASJATIM.COM, Surabaya – Kasus stunting di Kabupaten Bangkalan kembali meningkat pada 2024, dari 10 persen menjadi 17,7 persen. Melihat kondisi tersebut, tim dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) bersama Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri melakukan langkah nyata melalui program pengabdian masyarakat di Desa Parseh, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan.
Kegiatan bertajuk: Sinergi Pemberdayaan Keluarga dengan Tim Pendamping Keluarga dalam Upaya Pencegahan Stunting di Masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) ini melibatkan calon pengantin, ibu hamil, dan ibu dengan balita di Kampung KB Desa Parseh. Program yang didanai Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemdikbudristek tahun 2025 ini difokuskan pada edukasi gizi seimbang, penggunaan Buku KIA, pelatihan pijat tuina, serta pemantauan tumbuh kembang anak.
Ketua tim pelaksana, Dr. Ika Mardiyanti, S.ST., Bdn., M.Kes., menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan dan literasi kesehatan masyarakat. “Pencegahan stunting harus dimulai dari rumah. Melalui pelatihan ini, kami ingin keluarga memiliki kemampuan untuk menjaga tumbuh kembang anak secara optimal,” ujarnya.
Ika menambahkan, program ini juga mengintegrasikan kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) untuk mengajarkan ibu rumah tangga mengolah makanan bergizi bagi ibu hamil dan anak-anak. “Kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat sangat penting. Kami ingin Desa Parseh menjadi model pencegahan stunting berbasis pemberdayaan keluarga,” tambahnya.
Kepala Desa Parseh, Moh. Ilyas, S.AP., menyambut baik inisiatif ini. “Kami bersyukur desa kami menjadi sasaran program. Para kader TPK dan keluarga diharapkan bisa menularkan ilmu yang didapat agar angka stunting bisa terus menurun,” tuturnya.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Desa Parseh akan membangun stunting corner dan melanjutkan kegiatan edukatif seperti pelatihan gizi dan pijat bayi.
Program ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 2 (Tanpa Kelaparan), poin 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), dan poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). “Pencegahan stunting adalah investasi jangka panjang bagi masa depan anak-anak kita. Dengan edukasi berkelanjutan, kami berharap masyarakat semakin sadar dan mandiri dalam menjaga kesehatan keluarga,” pungkas Ika.(tok)
