IHSG Ditutup Melemah 0,25 Persen, Tertekan Saham Bahan Baku dan Finansial

oleh -969 Dilihat

KILASJATIM.COM, Jakarta – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir pekan ini ditutup di zona merah. Setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup melemah 0,25 persen ke level 8.163,88 pada Jumat (31/10).

Berdasarkan data BEI, jumlah saham yang turun mencapai 389 emiten, sedangkan 287 saham menguat dan 279 saham lainnya stagnan.

“Saham sektor bahan baku, finansial, dan properti turun paling dalam dan menjadi penekan IHSG hari ini,” ujar Tim Analis Phillip Sekuritas Indonesia, Jumat (31/10).

Pelemahan tidak hanya terjadi pada IHSG, tetapi juga pada indeks LQ45 yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid di bursa. Saham-saham yang paling aktif diperdagangkan hari ini antara lain BBCA, BBRI, BMRI, ADRO, dan BRMS.

Adapun total volume saham yang ditransaksikan mencapai 27,52 miliar lembar, dengan frekuensi perdagangan sekitar 1,96 juta kali transaksi. Nilai total transaksi tercatat sebesar Rp19,15 triliun, sementara kapitalisasi pasar berada di kisaran Rp14.857 triliun.

Pelemahan IHSG sejalan dengan pergerakan mayoritas bursa saham Asia yang juga ditutup di zona negatif. Sentimen pasar masih dibayangi ketidakpastian dari perkembangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Pertemuan terbaru antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping disebut belum memberikan dampak signifikan terhadap pasar.

“Meskipun terjadi kesepakatan untuk memperpanjang ‘gencatan senjata’ dalam perang dagang antara AS dan Tiongkok, pasar melihatnya hanya sebagai penurunan ketegangan, bukan perubahan struktural dalam hubungan dagang kedua negara,” jelas Tim Analis Phillip Sekuritas.

Tim analis menilai, kedua negara belum menyelesaikan persoalan mendasar, melainkan hanya mengulur waktu untuk mengurangi ketergantungan di sektor-sektor strategis.

Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi makro dari Asia Timur, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Data yang menjadi perhatian antara lain aktivitas industri, penjualan ritel, serta tingkat pengangguran.

Baca Juga :  BEI Mulai Implementasikan Liquidity Provider Saham, Hadirkan Kuotasi Perdana atas 5 Saham

Kinerja ekonomi kawasan tersebut menjadi indikator penting bagi arah pergerakan pasar ke depan, mengingat kontribusi besar mereka terhadap perdagangan global dan rantai pasok industri di Asia.(ara)