Perjuangan Tim Rescue Surabaya di Reruntuhan Ponpes Al-Khoziny: “Kami Hanya Ingin Mereka Selamat”

oleh -590 Dilihat
oleh
Cerita pertugas Rescue saat melakukan misi penyelamatan korban Ponpes Al Khoziny. (Foto: Dok humas/kilasjatim)

KILASJATIM.COM, Surabaya – Suara lirih santri memanggil dari balik puing menjadi penanda dimulainya perjuangan panjang tim penyelamat dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya.

Dengan tenaga yang nyaris habis dan di tengah tekanan mental tinggi, mereka berjuang mengevakuasi korban runtuhnya Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo.

Kisah itu diungkap langsung para personel DPKP di Pos Induk Damkar, Rabu (15/10/2025).

Elvanio Santoso — akrab disapa Neo — menjadi salah satu anggota yang turun pada malam pertama pencarian, sekitar pukul 22.00 WIB. Ia masih mengingat jelas suara seorang santri dari balik reruntuhan.

“Dia bilang, ‘Pak, ada lubang. Tangan saya kelihatan, tapi saya tidak bisa keluar,’” tutur Neo.

Tim segera melacak sumber suara itu dan menemukan santri bernama Yusuf, yang beruntung tidak tertimpa beton. Namun akses menuju posisinya sangat sempit—hanya cukup untuk mengirim air dan biskuit.

Untuk membebaskannya, mereka harus memperbesar lubang dengan hati-hati, sambil berdiskusi dengan tim Basarnas agar struktur di sekitarnya tak makin runtuh.

Pekerjaan berlangsung lebih dari empat jam, dari pukul 22.00 hingga lewat 02.00 dini hari. Neo akhirnya kehabisan tenaga, dan tugas akhir pemotongan besi diserahkan ke rekannya, Abdul Aziz, hingga Yusuf berhasil diselamatkan.

“Ini pengalaman paling berat sekaligus membanggakan selama enam tahun saya di DPKP. Kami hanya ingin mereka bisa keluar hidup-hidup,” ujar Neo.

Hari berikutnya, giliran Abdul Aziz dan Galang Ferbi yang melanjutkan misi penyelamatan santri lain bernama Haikal. Ia ditemukan terjepit di bawah reruntuhan beton sedalam lima meter, dengan hanya tangan kanannya yang masih bisa bergerak.

Tekanan mental makin berat ketika mereka mendengar teriakan minta tolong dari korban lain di sisi berbeda, yang sulit dijangkau.
“Kami berusaha menenangkan mereka, bilang bahwa semua akan segera diselamatkan,” kenang Aziz.

Baca Juga :  Stand Toko Permata di Kayoon Surabaya Terbakar

Saat proses menggali tanah sejauh dua meter, Haikal mulai panik dan berteriak, “Sudah, jangan mainan itu. Haikal nggak bisa napas.”

Tim segera menyalurkan oksigen dan air minum lewat celah sempit, hingga kondisi Haikal kembali stabil dan evakuasi bisa dilanjutkan bersama Basarnas. Setelah berjam-jam bekerja, Haikal akhirnya berhasil keluar dengan selamat.

Mendengar langsung kisah itu, Wali Kota Eri Cahyadi tak bisa menyembunyikan rasa bangganya.
“Tim penyelamat Surabaya menunjukkan keberanian dan ketulusan luar biasa. Mereka berbuat tanpa pamrih demi menyelamatkan sesama,” ujarnya.

Sebagai bentuk penghargaan, Eri berjanji akan memberikan penghargaan khusus pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November mendatang, serta melengkapi fasilitas kebugaran di kantor DPKP.
“Untuk menolong orang lain, mereka harus tetap kuat dan sehat,” katanya.(cit)

No More Posts Available.

No more pages to load.