Pelopor Ilmu Nyeri, Prof. Rita Rehatta Ubah Paradigma Medis di Indonesia

oleh -419 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Di tangan Prof. Dr. Nancy Margarita Rehatta, dr., Sp.An-TI, Subsp.N.An.(K), Subsp.M.N.(K), nyeri tidak lagi sekadar gejala, melainkan disiplin ilmu tersendiri. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen (UK) Petra ini baru saja menerima penghargaan bergengsi ISAPM Awards 2025 sebagai Pelopor Ilmu Nyeri di Indonesia sekaligus Lifetime Achievement Award atas dedikasinya di bidang tersebut.

Prof. Rita, sapaan akrabnya, menjadi sosok penting di balik pengakuan nasional terhadap ilmu nyeri. Disertasi doktoralnya pada tahun 1999 berjudul: Pengaruh Pendekatan Psikologis Prabedah terhadap Toleransi Nyeri dan Respon Ketahanan Imunologik Pasca Bedah, menjadi penelitian pertama di Indonesia yang mengkaji hubungan antara aspek psikologis dan fisiologis dalam persepsi nyeri. “Ilmu nyeri fokus pada keterlibatan berbagai fungsi tubuh, termasuk otak dan sistem emosi, dalam timbulnya rasa nyeri,” jelasnya.

Berkat penelitiannya itu, Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) akhirnya mengakui nyeri sebagai bidang praktik mandiri, dengan penerbitan Surat Tanda Registrasi (STR) dan izin praktik khusus bagi dokter ahli nyeri,  sebuah tonggak sejarah dalam dunia medis nasional.

Menurutnya, tantangan terbesar ke depan adalah mengubah cara pandang publik dan tenaga kesehatan terhadap nyeri. “Nyeri bukan sekadar gejala. Jika sudah mengganggu, misalnya menyebabkan sulit tidur, itu masalah medis yang harus ditangani dokter ahli nyeri,” tegasnya.

Prof. Rita juga mendorong agar pendidikan kedokteran di Indonesia mulai memasukkan ilmu nyeri dalam kurikulumnya serta memperbanyak pelatihan profesional melalui workshop.

Sebagai bentuk nyata kontribusinya, ia berencana mengembangkan Klinik Nyeri di UK Petra sebagai pusat unggulan. Klinik tersebut akan memanfaatkan teknologi diagnostik modern dan pendekatan psikologis secara terpadu. “Klinik ini akan menjadi ruang kolaborasi dokter dan psikolog untuk menangani nyeri secara holistik,” pungkas Prof. Rita.

Baca Juga :  Hidupkan Semangat Keroncong, Untag Surabaya Gelar UNCC 2025

Dengan dedikasi dan visi besarnya, Prof. Rita Rehatta bukan hanya pelopor ilmu nyeri di Indonesia, tetapi juga simbol perubahan paradigma dalam dunia kedokteran: dari sekadar mengobati gejala, menuju memahami manusia secara utuh.(tok)