KILASJATIM.COM, Sidoarjo – Harapan menemukan santri selamat di balik reruntuhan Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, kian tipis. Hingga Kamis (2/10) malam, Tim SAR belum mendapati tanda-tanda kehidupan, meski pencarian dilakukan dengan berbagai metode dan peralatan canggih.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyebut, masih ada 59 orang yang terdata hilang. “Sekarang yang masih hilang, yang ada datanya, yang ada fotonya, sementara terdata 59 orang,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (3/10/2025).
Sejak Rabu malam, tim rescue Basarnas melakukan serangkaian asesmen dalam tiga tahap sebelum memutuskan pengerahan alat berat. Pada fase awal, petugas memanggil korban secara bergantian di titik pencarian (Site A1, A2, A3), namun tidak ada respons.
Tahap berikutnya, tim menggunakan search camera yang mampu menjangkau celah hingga lima meter, serta wall scan suffer 400 untuk mendeteksi napas dan denyut nadi di balik beton. Hasilnya tetap nihil.
Selain itu, multi search seismic scanner yang bisa menangkap getaran maupun suara kecil juga tidak menemukan tanda kehidupan. “Selama proses asesmen dan re-asesmen, area lokasi disterilisasi agar hasil deteksi tidak terpengaruh suara lain,” ujar SAR Mission Coordinator Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo.
BNPB juga menurunkan drone thermal dari udara untuk memperluas pencarian. Namun, seluruh teknologi yang digunakan menunjukkan hasil serupa: tak ada tanda korban hidup.
Dengan hasil asesmen itu, Tim SAR gabungan bersama keluarga korban menyepakati penggunaan lima unit crane sejak Kamis siang. Pengangkatan puing dilakukan bertahap, dengan pemasangan shoring atau penyangga di titik rawan agar struktur reruntuhan tetap stabil.
Langkah ini menandai pergeseran fokus operasi penyelamatan menjadi evakuasi jenazah. Dugaan kuat mengarah pada kemungkinan bahwa 59 santri yang masih hilang telah tertimbun dan meninggal dunia.(cit)



