Ancaman Lingkungan Meningkat, Pakar Dunia Bahas Arsitektur Tangguh di PCU

oleh -454 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Di tengah ancaman perubahan iklim, bencana alam, dan keterbatasan sumber daya, arsitektur Indonesia dituntut untuk beradaptasi dan menjadi lebih tangguh (resilien). Menjawab tantangan ini, Arsitektur Petra Christian University (PCU) bekerja sama dengan SENVAR (Sustainable Environment Architecture) menggelar konferensi internasional 6th ICEA-Senvar 2025 di kampus PCU pada 1-3 Oktober 2025, dengan mengusung tema “Resilient Architecture”.

​Acara ini menjadi wadah penting bagi para akademisi, praktisi, dan pemerintah untuk mencari solusi desain berkelanjutan yang dapat menjamin keamanan, kenyamanan, dan keberlanjutan ruang hidup masyarakat.

Ketua acara, Aris Budhiyanto, S.T., M.Sc., Ph.D., menegaskan alasan pemilihan tema ini. Menurutnya, hidup di Indonesia secara nyata menghadapi berbagai ancaman lingkungan yang berdampak pada kehidupan manusia. ​Kita perlu merancang bangunan dan lingkungan yang bisa bertahan, beradaptasi, dan tetap berfungsi di tengah berbagai tantangan tersebut, kata Aris.

Ia menambahkan bahwa konferensi ini diharapkan menjadi wadah untuk berbagi. Ide, penelitian, dan solusi inovatif yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal dan ruang hidup yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.” Untuk mewujudkan arsitektur yang tangguh, dibutuhkan pendekatan desain berkelanjutan, pemanfaatan material canggih, dan teknik konstruksi inovatif.

Konferensi dua tahunan ini menghadirkan empat pakar ternama yang mengupas berbagai aspek arsitektur tangguh, mereka adalah, Prof. David Sanderson (University of New South Wales Sydney): Membahas ketahanan kota terhadap bencana yang harus melibatkan warga dalam persiapan dan pemulihan, agar solusi yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.

​Prof. Sri Nastiti N Ekasiwi (ITS): Menyoroti desain bangunan di iklim tropis agar dapat menyesuaikan diri dengan panas dan lembap tanpa boros energi, misalnya dengan menggunakan sistem pendinginan alami seperti ventilasi silang. Prof. Heng Chye Kiang (National University of Singapore), menjelaskan pentingnya merancang kota yang tahan bencana dari skala lingkungan sekitar hingga skala besar, dengan memperhatikan tata ruang yang menghubungkan antar kampung, kawasan, dan kota. ​Dr. Rully Damayanti (PCU): Menekankan bahwa fleksibilitas desain dan kemampuan beradaptasi dari pengalaman nyata sangat penting, mengingat kondisi iklim dan sosial di Indonesia terus berubah.

Baca Juga :  Stop Konsumsi Gula Berlebih, Tema Kampanye Mahasiswa Kedokteran Ubaya Peringati Hari Diabetes Sedunia

Selain sesi seminar, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan pameran, talkshow, dan demo dari alumni yang tergabung dalam Urban Sketcher (USK) pada hari Jumat (3/10/2025). Workshop tersebut menyoroti masalah ruang yang mahal harganya di perkotaan.

Christine Wonoseputro, S.T., M.ASD., selaku PIC workshop, menjelaskan tujuan kegiatan ini: ​Jadi nanti bagaimana seorang Arsitek kreatif mampu mendesain kios UMKM yang hemat ruang agar tetap ramah ekonomi tapi unik.” Kegiatan ini diharapkan dapat mengubah cara merancang dan memastikan arsitektur Indonesia tidak hanya berumur panjang, tetapi juga menjamin kesejahteraan dan keamanan masyarakat di masa depan.(tok)