Acara penyerahan penghargaan Angels Stroke Award, diberikan kepada National Hospital Surabaya, Rabu (10/9/2025).(kilasjatim.com/nova)
KILASJATIM.COM, Surabaya – Kenali gejala atau serangan stroke yang mendadak, jangan menunggu lama segera bawa ke rumah sakit untuk ditangani. Dengan penanganan yang lebih dini maka stroke bisa disembuhkan. kabar gembira datang dari National Hospital Surabaya yang dikenal sebagai rumah sakit rujukan penanganan stroke di Indonesia.
Menegaskan posisinya National Hospital melalui layanan unggulan stroke center dengan teknologi Mechanical Thrombectomy, rumah sakit ini berhasil meraih penghargaan Stroke Awards.
Dr. dr. Nur Setiawan Suroto, Sp.BS (K), spesialis bedah saraf neurovaskular National Hospital menyampaikan, tindakan thrombectomy bukan hanya menyelamatkan nyawa, tapi juga menekan risiko kecacatan permanen.
“Kalau sumbatan di pembuluh darah besar hanya diberi obat, sering kali tidak larut. Karena itu, dibutuhkan thrombectomy untuk mengambil langsung gumpalan darahnya. Tujuan utamanya adalah menyelamatkan pasien sekaligus meminimalkan kemungkinan cacat,” jelas dr. Nur.
Ia menekankan pentingnya masyarakat segera membawa pasien ke rumah sakit begitu muncul gejala stroke.
“Slogannya sederhana: segera ke rumah sakit. Dengan opsi pengobatan yang semakin beragam, harapannya angka kematian dan kecacatan akibat stroke bisa terus ditekan, sesuai target Kementerian Kesehatan,” jelas dr. Nur Setiawan usai acara penyerahan penghargaan Angels Stroke Award, Rabu (10/9/2025).
Direktur National Hospital, dr. Hendra Hendri, SpOG, menjelaskan, keberhasilan rumah sakit dalam penanganan stroke tidak lepas dari sistem cepat tanggap yang telah dibangun sejak pasien pertama kali dijemput.
“Ambulans kami sudah dilengkapi smart system. Begitu pasien diduga stroke, tim langsung mengaktifkan Code S (kode stroke) yang memberi instruksi kepada seluruh tim medis agar bersiap di IGD. Setibanya pasien, pemeriksaan segera dilakukan, dan jika diperlukan tindakan khusus, langsung diarahkan ke ruang khusus di lantai tiga,” terang dr Hendra.
Dalam layanan ini salah satu tindakan medis yang menjadi andalan adalah Mechanical Thrombectomy, yaitu prosedur untuk menyedot gumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah otak sehingga aliran darah kembali lancar. Prosedur ini, sangat menentukan pemulihan pasien.
“Golden time penanganan stroke bisa empat hingga enam jam, bahkan maksimal 24 jam. Semakin cepat ditangani, peluang pemulihan pasien semakin besar,” jelasnya.
Di kesempatan yang sama, dokter spesialis neurologi National Hospital, dr. Erik Tanoto, Sp.N, menambahkan, kasus stroke akibat penyumbatan lebih sering ditemui dibanding perdarahan. Faktor risikonya beragam, mulai dari hipertensi, diabetes, hingga kolesterol tinggi.
“Jika dulu stroke lebih banyak dialami usia 50–60 tahun, sekarang tren berubah. Pasien usia 30–40 tahun pun semakin sering datang dengan gejala stroke. Gaya hidup, makanan cepat saji, hingga konsumsi gula tinggi menjadi pemicunya,” jelasnya seraya menambahkan dalam setahun terakhir, kasus stroke yang ditangani dengan tindakan trombolisis maupun thrombectomy di National Hospital meningkat hingga 100 persen.
“Dalam sebulan, sekitar 20–30 persen pasien stroke yang datang ke kami bisa ditangani dengan metode ini. Namun, yang terlambat datang biasanya hanya bisa diberikan obat oral,” pungkasnya. (nov)




