KILASJATIM.COM, Surabaya – Naylza Afero Qirani, siswi SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya, membuktikan bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk membuat perubahan. Di tengah padatnya jadwal sekolah, Naylza berhasil meraih gelar Puteri Pendidikan Remaja Jawa Timur 2025. Gelar ini membuktikan Naylza tak hanya unggul dalam akademis, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap isu pendidikan di sekitarnya.
Ajang Putera-Puteri Pendidikan Jawa Timur 2025 yang diselenggarakan oleh Yayasan Putera Puteri Pendidikan Jawa Timur, bukanlah kompetisi biasa. Ajang ini tidak hanya menilai penampilan fisik, tetapi juga kecerdasan, jiwa kepemimpinan, hingga kepedulian para finalis terhadap dunia pendidikan. Naylza berhasil menyisihkan puluhan finalis dari berbagai kota dan kabupaten.
Perjalanan Naylza dimulai pada Mei 2025, saat ia melihat pengumuman kompetisi di Instagram. Dengan tekad kuat, ia mendaftar dan berhasil lolos seleksi tulis serta wawancara. Pada Juni, ia masuk 20 besar dan menjalani pra-karantina pertama yang meliputi pembekalan materi, penilaian keaktifan, dan sesi tanya jawab.
Di bulan Juli, Naylza tampil dalam sesi bakat dengan membawakan monolog yang mengangkat isu sensitif dan relevan dalam dunia pendidikan, yaitu jual beli kunci jawaban ujian. “Karena ini ajang pendidikan, saya ingin mengangkat isu yang relevan dengan dunia belajar kita,” ungkapnya.
Visi Naylza tidak main-main. Ia berfokus pada pemerataan pendidikan, pengembangan literasi generasi muda, dan edukasi penggunaan teknologi yang bijak. “Banyak anak yang tidak mendapat pendidikan layak karena faktor ekonomi atau lingkungan. Saya ingin itu berubah,” tegasnya.
Visi tersebut ia wujudkan dalam aksi nyata. Sebagai bagian dari penilaian, Naylza mengadakan kunjungan ke SDN Sawunggaling VII untuk memberikan materi cara belajar efektif kepada para siswa. “Dari situ saya bisa melihat langsung kualitas pendidikan, khususnya di Jawa Timur,” imbuhnya.
Puncak kompetisi, yaitu grand final, berlangsung pada 23–24 Agustus 2025 lalu di Briliant English Course, Kampung Inggris, Pare, Kediri. Selama dua hari, para finalis mengikuti berbagai kegiatan, termasuk kunjungan ke Museum Pendidikan dan sesi pidato di hadapan juri. Berkat kerja kerasnya, Naylza dinobatkan sebagai runner-up 1 Puteri Pendidikan Jawa Timur 2025.
Gelar ini menjadi awal dari perjuangan baru bagi Naylza. Ia kini mengemban amanah untuk menjalankan program kerja. Salah satu programnya adalah mengumpulkan buku bekas untuk didonasikan ke LSM Sanggar Alang-Alang, Wonokromo, tempat anak-anak jalanan belajar. “Buku-buku itu akan saya bawa untuk membuat pojok baca agar mereka bisa belajar,” katanya dengan mata berbinar.
Di balik gelar duta pendidikan, Naylza memiliki cita-cita mulia, yaitu menjadi dokter yang dapat memberikan layanan gratis bagi masyarakat miskin. “Banyak orang yang tidak mampu berobat, jadi saya ingin menjadi dokter yang merakyat,” tambahnya lagi.
Bagi Naylza, kemenangan ini bukanlah tentang mahkota dan selempang, melainkan tanggung jawab besar untuk menginspirasi. “Tanggung jawabku sebagai Puteri Pendidikan adalah menginspirasi banyak orang, khususnya teman sebaya, dan mewujudkan program kerja yang bermanfaat untuk orang lain,” pungkasnya.(tok)
