Wayang Gagrak Porongan di Desa Suruh, Warga Antusias Lestarikan Budaya

oleh -1460 Dilihat

KILASJATIM.COM, SidoarjoRatusan warga Desa Suruh dan sekitarnya memadati area kios desa untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit Gagrak Porongan, Sabtu (6/9/2025) malam. Pentas budaya yang sudah memasuki tahun kelima ini digelar Pemkab Sidoarjo bersama Pemerintah Desa Suruh sebagai upaya melestarikan warisan budaya Jawa khas Sidoarjo.

Camat Sukodono, Moch. Solichin, yang membuka acara menyebut wayang kulit sebagai bagian penting dari identitas bangsa. “Pagelaran wayang adalah wujud komitmen menjaga budaya asli Indonesia. Semoga semakin dicintai generasi sekarang maupun mendatang,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Tirto Adi, hadir mewakili Bupati. Ia menegaskan bahwa Gagrak Porongan merupakan ciri khas Sidoarjo yang perlu terus diperkenalkan ke masyarakat, terutama generasi muda. “Wayang ini adalah warisan budaya asli Indonesia yang perlu kita lestarikan bersama,” katanya.

Tirto menambahkan, dari 18 kecamatan yang mengajukan program pengembangan seni wayang kulit, baru 12 yang disetujui. Pemkab, kata dia, terus mendorong agar pagelaran serupa semakin meluas.

Sekretaris Desa Suruh, Rohim, menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai sarana mengenalkan kembali seni budaya lokal. “Harapannya, tumbuh rasa cinta warga terhadap kearifan lokal dan filosofi dalam wayang,” jelasnya.

Bagi warga, acara ini bukan hanya hiburan, tetapi juga pengingat akan pentingnya budaya leluhur. “Saya senang sekali ada pagelaran wayang di desa. Semoga anak muda tidak melupakan budaya sendiri,” tutur Mbah Khalimah (80), warga Desa Lengki, yang datang bersama anaknya.

Pagelaran yang berlangsung meriah ini juga dihadiri sejumlah pejabat, mulai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, anggota DPRD, camat dari beberapa kecamatan, hingga kepala desa se-Kecamatan Sukodono. Kehadiran mereka menjadi penegas dukungan pemerintah dan masyarakat dalam menjaga hidupnya tradisi wayang kulit di Sidoarjo. (TAM)