Berpulangnya Penjaga Manuskrip Tetralogi

oleh -785 Dilihat

KILASJATIM.COM, Malang – Kabar duka itu datang dari grup WhatsApp. Jika pemegang manuskrip, Tetralogi Pramoedya Ananta Toer, Oei Hiem Hwie berpulang untuk selamanya pada Rabu (3/9/2025) pukul 09.45. Diusia 90 tahun karena sakit dan penuaan.

Kepergiannya meninggalkan banyak cerita. Ia bukan hanya pendiri Perpustakaan Mendayu Agung, juga pelaku sejarah, bagaimana Orde Baru (Orba) membawanya “bertualang” dari penjara ke penjara hingga menghuni Nusakambangan dan Pulau Buru selama bertahun-tahun. Seperti yang ditulisnya dalam memoar “Oei Hiem Hwie, Dari Pulau Buru Sampai Medayu Agung” terbitan PT Wastu Lanas Grafika, pada 2015, sepuluh tahun lalu.

Perjalanan hidupnya tertuang dalam memoar setebal 258 halaman, disusun berdasarkan ingatan tentang segala yang pernah dilihat, didengar dan dialami sejak masih kanak-kanan, remaja, hingga terlibat dalam organisasi Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia), sebagai wartawan, tahanan politik, pustakawan hingga mendirikan Perpustakaan Medayu Agung sebagai dedikasinya untuk  Indonesia sekaligus merawat ingatan akan sejarah negeri ini.

Pada bagian awal buku, Oei Hiem Hwie yang biasa disapa Pak Wie, menceritakan akar keluarga yang dimulai dari kakek dari ayahnya asli Tiongkok dengan Marga Huang. Ayahnya Bernama Oei Bing Kie dan ibunya , The Lekas Nio, turunan Jawa-Tionghoa. Masa kecilnya dihabis di Kidul Dalem dan Klojen Kidul, tidak jauh dari Alun-Alun Kota Malang. Pada era 1942 ketika kondisi politik tidak menentu, pertarungan politik antar Tiongkok, Jepang dan Belanda.

Seperti dikisahkan dalam memoarnya. Saat masih kecil ayahnya membuka usaha pracangan dan ibunya membuka usaha menjahit, selain menjual rokok. Pada masa pendudukan Jepang pemerintah Jepang memproduksi rokok “Misuho” dengan aturan, pembeli rokok harus mengembalikan bungkus rokoknya jika ingin menbeli rokok baru.  Bungkus rokok tersebut diserahkan pada distributor rokok. Dan rokok baru bisa dibeli sejumlah bungkus rokok yang disetorkan.

Pada sub bab satu Klepon dan Jipang, dikisahkan kekejaman tentara Jepang yang menghajar penjual kue Jipang, sampai mukanya hancur penuh darah. Hanya karena berteriak jipang untuk menajajkan dagangannya. Sementara tentara Jepang merasa terhina dengan kata jipang. Begitu pula dengan penjual klepon yang dihajar,  daganganya di injak-injak hanya karena jualan klepon, yang terdengar mirip Nipon.

Baca Juga :  Diisukan Pacaran, Timothee Chalamet dan Kylie Jenner Bikin Gempar Publik

Pak Wie kecil pernah diajak ibunya ke Pasar Besar, sampai di daerah Jl. Kudusan terlihat orang panik berteriak sambil berlari ketakutan. Ketika didekati, tentara Jepang sedang menyiksa seorang laki-laki yang diduga mata-mata, memotongi angota badanya sedikit-demi sedikit. Mereka juga memerintahkan setiap orang  yang lewat ikut menyiksa, menusuk atau turut memotong anggota tubuh, sedang yang disiksa masih hidup dan berteriak kesakitan.

Pada masa pendudujan Jepang, perekonomian sangat sulit.  Harga pangan melejit, untuk mendapat bahan makanan, berupa beras, ikan asin, tempe  dan minyak. Dapat dibeli dengan menukar kupon yang sudah dibagikan oleh Gumicok, petugas administrasi saat ini setingkat RT (Rukun Tetangga).  Bukan hanya pangan, sandang pun sulit. Kain lenyap dan langka, diganti karet dan goni untuk menutup anggota badan. Akibatnya terjadi penyakit kulit yang menyerang warga, seperti kudis, koreng dan patek yang menyiksa. Keadaan ini sangat ironis, sebab setiap anggota keluarga wajib mengirim satu anggota keluarga untuk kegiatan memintal benang, termasuk kakaknya, hasil pintalan benang diserahkan pada pemerintah Jepang, untuk keperluan militer,

Bukan hanya itu, bagi warga Tionghoa  menyerahkan perhiasan sebagai bentuk pengabdian pada Jepang. Jika tidak ingin dibunuh. Sedang perhiasanya ibunya, disembunyikan di dinding yang dilubangi dan dicor kembali. Selain itu, wajib menyerahkan pagar dan pintu besi yang akan didaur ulang untuk membuat senjata. Semua demi membiayai perang Jepang yang kian meluas.

Selain berniaga, ayah Pak Wie juga aktif dalam kegiatan organisasi, sebab itu rumahnya menjadi tempat persembunyian Yap Bo Chin, mata-mata Tiongkok yang terlibat dalam aksi perusakan rel kereta api yang menghambat perjalanan kereta api berisi serdadu Jepang. Sabotase truk di jalan dan mobilisasi warga anti Jepang, yang dikirim dari Tiongkok.

Dalam diskusi kecil bersama Hariyono, biasa disapa Cak Pendek pendiri Sabtu Membaca, pada akhir Agustus, sebelum Pak Wie meninggal, berencana mengunjungi beliau bersama anggota komunitas literasi di Malang. Selain untuk bersilaturahmi juga ingin  mengetahui kisah hidupnya yang ditulis dalam memoar tersebut. Sayangnya keinginan itu, tinggal rencana yang tidak terlaksana.

Baca Juga :  PDIP Jatim Bikin Konten Khusus Ramadan dan Lebaran di Medsos

“Yang ditulis Pak Wie ini menarik. Ada nama Tuan Kamora,  spionase oleh  Jepang yang masuk ke Indonesia pada 1936. Menyamar sebagai pedagang kelontong di Pasar Besar. Nama Tuan Kamora juga disebut dalam buku, Menjadi Tjamboek Berdoeri, Memoar Kwee Thiam Tjing. Berarti ada persamaan, kedua buku tersebut saling melengkapi sejarah Kota Malang,” kata cak Pendek.

Mengenai Kwee Thiam Tjing sendiri, seorang jurnalis asal Malang. Yang melaporkan berbagai kejadian pada media Tionghoa waktu itu. Ia juga menulis beberapa buku, termasuk menulis memoar tentang dirinya. Juga pengusaha media dan aktivis politik yang meninggal pada Mei 1974.

Sementara, pertemuan pertama kali saya dengan Pak Wie pada 2002, bersama penulis Ratna Indraswari Ibrahim (almarhum) berkunjung ke Perpustakaan Medayu Agung. Dengan ramah dan antusias, mantan wartawan Terompet Masjarakat (terbit 1960-1963), menjelaskan berbagai peristiwa sejarah yang dialami secara langsung. Seperti upaya penyelamatan naskah Bumi Manusia dan tiga buku lainnya yang ditulis diatas kertas bungkus semen. Lantas disembunyikan di kakus (WC) dan ditutup dengan semen cor, bagian atasnya di beri tangkai besi, untuk buka-tutup. Sampai waktu pembebasan tiba, dibawa serta naskah beserta penutup WC-nya sebagai bukti sejarah.

Bapak dari Adi Sandika dan Yudi Sandika, terseret sebagai tapol (tahan politik) sebab statusnya sebagai sekretaris Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) dan wartawan. Ia juga dituduh anggota PKI, oleh tentara yang memeriksanya. Tentu saja tudingan itu tidak terbukti. Sebab ia bukan anggota PKI.

Dalam salah satu wawancara untuk penulisan berita harian sore Surabaya Post, edisi Senin, 6 Agustus 2007, lelaki kelahiran Malang, 26 Nopember 1935, menyampaikan ingin mengembalikan national character building, yang mulai runtuh pada masa Orba. Sebab Soeharto, mantan presiden lebih suka melakukan pembangunan fisik yang megah. Dibanding pendidikan karakter.

Dan, melalui perpustakaan yang ia rintis. Pak Wie ingin mengembalikan national character building yang hilang, dengan meluruskan sejarah. Ditengah hiruk-pikuk keadaan hari ini, semoga keinginan beliau terkabul. Dimana orang-orang muda telah bergerak dengan mengajukan tuntutan 17+8 Tuntutan Rakyat. Transparansi. Reformasi. Empati (TQI)