PKKMB Unusa 2025 Digelar Daring, Cetak Generasi Visioner Berintegritas

oleh -276 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) membuka Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) pada Senin (1/9/2025) secara daring. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi sosial politik yang dinilai belum kondusif.

“Mengingat kondisi di Surabaya khususnya dan Indonesia umumnya sedang tidak kondusif, sehingga keputusan ini diambil demi kenyamanan dan keamanan bersama,” terang Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng.

Menurut Prof. Jazidie, PKKMB di Unusa bukan sekadar pengenalan kampus, tetapi juga sarana menanamkan nilai kebangsaan, membentuk karakter, dan meneguhkan integritas. Tema tahun ini adalah Empowering With VISION: Values Driven Innovation for A Sustainable Future. “Di Unusa mahasiswa baru akan ditempa menjadi manusia terbaik yang sebesar-besarnya dapat memberikan manfaat bagi sesama manusia. Kurikulum Unusa memungkinkan mahasiswa memiliki kompetensi menyeluruh terkait pengetahuan, keterampilan, dan attitude atau tata krama,” ujarnya.

Ia menekankan tiga kompetensi itu sangat dibutuhkan di dunia kerja maupun masyarakat. “Dengan dibekali berbagai materi, harapannya para mahasiswa baru dapat terstimulus juga menyulut motivasi mahasiswa baru dalam mencintai kebaikan,” katanya.

Rektor juga berpesan agar mahasiswa aktif, tetapi tetap menjaga keseimbangan akademik. “Menjadi pribadi yang mencintai kebenaran dan tanah air, saudara-saudara harus aktif dalam kemahasiswaan namun juga jangan lalai dalam akademik,” terang Prof. Jazidie.

Lebih jauh, ia mengingatkan pentingnya komunikasi, diplomasi, dan sikap saling menghargai. “Kampus ini (Unusa, red) menjunjung tinggi pemimpin yang anti korupsi, kolusi, nepotisme, hingga pamer kemewahan di tengah penderitaan rakyat,” jelasnya.

Tahun ini Unusa menerima sekitar 4.600 mahasiswa baru, termasuk mahasiswa program pendidikan guru (PPG), dengan sekitar 1.450 di antaranya mengikuti PKKMB. Prof. Jazidie menambahkan, Unusa baru saja merayakan hari lahir ke-12. “Di usia yang ke-10 tahun, Unusa jadi salah satu dari 100 perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia yang terakreditasi Unggul, dari ribuan perguruan tinggi yang ada,” ungkapnya.

Baca Juga :  Ikuti Bimtek, Guru UKS di Kota Kediri Diharap Bisa Ciptakan Lingkungan Sekolah yang Sehat

Ia juga menyinggung capaian akademik Unusa. “Pada 2024 Unusa berhasil mencapai peringkat 35 perguruan tinggi nasional versi Webometric. Penelitian dan pengabdian masyarakatnya berada klaster mandiri, yang mana merupakan klaster tertinggi penelitian. Dan dari ribuan perguruan tinggi di Indonesia, tidak lebih dari 100 yang mencapai klaster mandiri tersebut,” tuturnya.

“Unusa juga telah masuk ranking THE Impact Ranking dari 71 perguruan tinggi di Indonesia yang masuk pemeringkatan tersebut. Hal ini menunjukkan kontribusi Unusa dalam SDGs poin 3,4,5,6, dan 17. Berkontribusi pada kesehatan, kesejahteraan, pendidikan berkualitas, air bersih dan sanitasi umat manusia di muka bumi,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Rektor mengajak peserta PKKMB untuk mendoakan mereka yang gugur dalam perjuangan demi Indonesia. “Khususnya saudara kita Affan Kurniawan, Al-fatihah,” terangnya. Ia juga mengutip Surat Al-Maidah ayat 32: “Barang siapa membunuh seseorang bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena orang itu berbuat kerusakan di muka bumi, maka sesungguhnya seakan-akan dia membunuh semua manusia.”

Selain Rektor, PKKMB Unusa menghadirkan Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia (PSIK-Indonesia), Prof. Yudi Latif, MA., Ph.D. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya mahasiswa memahami peran strategis mereka sebagai calon pemimpin bangsa. “Mahasiswa berperan penting dalam jejak sejarah Indonesia. Usia mahasiswa saat ini adalah usia yang cukup matang untuk berpikir. Belajar tidak hanya untuk menjadi ilmuwan, tetapi juga untuk membangun bangsanya. Namun, masalahnya generasi sekarang kurang tertantang dalam proses aktualisasi diri,” ujarnya.

Menurut Yudi, tantangan generasi kini bukan lagi penjajahan dari luar, melainkan kerumitan tata kelola dengan konflik kepentingan besar. “Oleh karena itu, generasi muda harus hadir sebagai sosok yang bijak, cerdas, dan mampu memberikan solusi,” tegasnya.

Baca Juga :  Untag Siapkan Penggerak Lingkungan, Tekan Meningkatnya Polusi Udara

Ia menekankan pentingnya sikap kritis yang sehat. “Mahasiswa perlu memiliki nalar dan nurani yang cerdas. Kritis harus tetap dikukuhkan, karena itu adalah bentuk tanggung jawab moral sebagai intelektual. Namun, kita harus membedakan sikap kritis dengan barbaris. Kritis berarti membangun, sementara barbaris justru merusak. Dan bangsa ini membutuhkan generasi yang kritis secara sehat, penuh gagasan maupun inovasi, dan mampu berkontribusi nyata,” jelasnya.

Yudi menambahkan, pembangunan bangsa membutuhkan modal integritas dan modal nilai yang menjadi jaminan saling percaya antarwarga. “Dan pendidikan menjadi jalan utama untuk membangun bangsa ini. Bukan hanya pendidikan dalam pengetahuan, tetapi juga keterampilan, hingga pembentukan karakter. Dan generasi muda harus memiliki soft skill yang kuat untuk menambah nilai dalam dirinya,” pungkas Yudi.(tok)