Santri TPQ Hidayatush Shibyan Khatam Al-Qur’an, Bukti Perjuangan Panjang dan Harapan Baru

oleh -515 Dilihat
oleh

KILASJATIM.COM, Sidoarjo – Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema penuh haru di halaman TPQ Hidayatush Shibyan, Minggu (31/8/2025). Puluhan santri menutup perjalanan panjang belajar mereka dengan prosesi khataman dan imtihan ke-25. Acara itu bukan sekadar seremoni, melainkan penanda keberhasilan sebuah proses pendidikan yang penuh doa, disiplin, dan kerja sama antara ustadzah dan wali santri.

Dari momen tersebut, nama Fathin Amiratul Ummah mencuri perhatian. Santri berusia 7 tahun ini berhasil memborong dua penghargaan sekaligus: kategori terbaik 1 usia TPQ dan penyaji terkecil periode Muharrom 1447 Hijriah. “Alhamdulillah senang sekali bisa meraih dua penghargaan. Terima kasih kepada ustadzah yang sudah membimbing saya,” ucap Amira singkat dengan wajah sumringah.

Tiga santri lain juga menerima apresiasi. Siti Ainiya Faida Azmi terpilih sebagai terbaik 1 kategori remaja, sementara M. Iqbal Arkab Al-Ghofur meraih penghargaan penyaji tercepat.

Kepala TPQ Hidayatush Shibyan, Ila Firdausi Nuzula, menegaskan acara ini adalah bentuk pertanggungjawaban lembaga kepada wali santri. “Untuk sampai di tahap khataman, anak-anak melalui rangkaian ujian, mulai tingkat lembaga, kecamatan hingga cabang. Kami berharap hafalan dan bacaan mereka terus dijaga, dan semoga bisa dilanjutkan ke madrasah diniyah maupun program tahfidz,” ujarnya.

Menurut Ila, pembelajaran di TPQ tak hanya berfokus pada bacaan Al-Qur’an, tetapi juga melatih kedisiplinan, akhlak, dan semangat belajar. “Kadang ada sanksi kecil yang diberikan, itu semua demi memastikan bacaan benar-benar dikuasai,” tambahnya.

Apresiasi juga datang dari Koordinator Kecamatan Sidoarjo 4, Haji Abdullah Faqih. Ia menilai bacaan para santri sudah fasih dan sesuai standar metode Qiroati. “Anak-anak di sini sudah sangat bagus. Saya yakin perjuangan ini tidak mudah, butuh kerja keras dari ustadzah dan dukungan penuh wali santri,” katanya.

Baca Juga :  Rumah Meledak di Mojokerto, Polisi Duga Akibat Kebocoran Tabung Gas Elpiji

Dalam sambutannya, Abdullah juga menyinggung sejarah lahirnya metode Qiroati yang dirintis KH. Dachlan Salim Zarkasyi di Semarang pada 1963, sebagai jawaban atas kebutuhan metode baca Al-Qur’an yang sistematis. “Metode ini bertahan hingga kini karena diyakini minallah, karunia dari Allah,” jelasnya.

Acara ditutup dengan doa bersama serta pemberian penghargaan. Senyum bangga para orang tua, pelukan hangat, dan air mata haru menjadi penanda bahwa khataman ini bukan sekadar akhir, melainkan awal perjalanan baru membentuk generasi Qur’ani.

No More Posts Available.

No more pages to load.