KILASJATIM.COM, Surabaya – Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Begitu pula Muhammad Farhan Andi Pratama, dokter baru Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), yang resmi dilantik dan diambil sumpahnya pada Kamis (28/8/2025). Lahir dari keluarga dokter, ia tumbuh dengan teladan ketulusan dan pengorbanan kedua orang tuanya.
Farhan, pria kelahiran Surabaya 5 Februari 2000, menyaksikan langsung bagaimana ayahnya, seorang spesialis bedah, bertahun-tahun harus tinggal di luar kota demi penugasan. Sementara ibunya, rela menempuh perjalanan pulang-pergi sekitar satu jam setiap hari untuk melayani pasien di puskesmas. “Kerja keras ayah dan bunda membuat saya ingin mengikuti jejak mereka. Dari situlah saya makin yakin ingin menjadi dokter,” ungkap Farhan.
Namun perjalanan itu tidak selalu mulus. Tahun 2014, sepulang mudik lebaran, ibunya tiba-tiba sakit dan harus dirawat karena diabetes. Malam sebelum dijadwalkan operasi, sang bunda berpulang untuk selamanya. “Waktu itu saya masih SMP, rasanya bingung sekali. Tapi dukungan keluarga membuat saya ikhlas. Sejak itu cita-cita jadi dokter justru makin teguh, saya ingin menyelamatkan nyawa orang di luar sana,” tuturnya.
Kehadiran sosok ibu kembali menyemangati Farhan setelah ayahnya menikah lagi pada 2021 dengan seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Dari situ, pengetahuannya tentang dunia kedokteran semakin bertambah dari perspektif berbeda.
Ketulusannya berbuah manis. Pada pelantikan dokter ke 13 Unusa, Farhan dinobatkan sebagai lulusan terbaik ketiga dalam Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD). “Setelah internship, saya ingin melanjutkan spesialisasi bedah. Menurut saya, dokter bedah itu bisa segala hal, dan saya juga ingin melanjutkan jejak ayah yang spesialis bedah di RSJ Radjiman Lawang,” jelasnya.
Baginya, menjadi dokter bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk menjadi perantara kesembuhan. “Dokter itu perpanjangan tangan Tuhan untuk membantu sesama. Kesembuhan berasal dari Allah, kita hanya jadi jalan,” ujar Farhan penuh keyakinan.
Semangatnya pun tak berhenti pada dirinya. Dua adiknya kini juga menapaki jalan serupa. Sang adik pertama menempuh studi kedokteran di Malang, sementara adik bungsunya baru saja diterima di fakultas kedokteran. Sebuah bukti bahwa profesi dokter telah menjadi napas keluarga ini.
Farhan menutup kisahnya dengan pesan untuk generasi calon dokter. “Jangan khawatir kalau ketemu penguji ‘killer’, tanggung jawab lebih, atau teman yang bikin susah. Semua itu proses. Dari situ kita belajar jadi lebih baik lagi,” ucapnya mantap.(tok)
