FK Unusa Matangkan Pembukaan Program Dokter Spesialis

oleh -249 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa) menyiapkan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) untuk memperkuat posisi di tengah persaingan 14 penyelenggara pendidikan kedokteran di Surabaya. Dua program spesialis tengah disiapkan, yaitu pulmonologi dan respirasi serta obstetri dan ginekologi.

Dekan FK Unusa, Dr Handayani., dr., M.Kes. menegaskan keseriusan pihaknya. “Kini FK Unusa telah meluluskan sebanyak 214 dokter. Secara total kelulusan first taker mencapai di atas 80 persen. Sapaian ini merupakan prestasi yang sungguh membuat kami bangga dan sangat bersyukur,” paparnya dalam acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter ke-13 Unusa, Kamis (28/8/2025).

Handayani menambahkan, lulus first taker, atau lulus pada kesempatan pertama Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter (UKMPPD), merupakan tolok ukur mutu pembelajaran sekaligus penentu akreditasi fakultas. “Oleh karena itu FK Unusa dengan serius mempersiapkan mahasiswa program profesi dokter agar lebih banyak mahasiswa yang bisa lulus sebagai first taker,” jelasnya.

Lebih jauh, ia mengungkapkan kesiapan pembukaan dua program spesialis. “Ada dua PPDS yang sedang disiapkan yakni spesialis pulmonologi dan respirasi serta spesialis obstetri dan ginekologi. Kami mohon doa restu hadirin semoga rencana ini dapat segera terwujud,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Yarsis, Prof Muchlas Samani menekankan mandat yang diberikan pemerintah kepada Unusa. “Sebagai fakultas yang telah unggul dan memiliki tiga rumah sakit sendiri, Unusa diberikan mandat dari pemerintah untuk membuka lima PPDS, dalam upaya memenuhi kebutuhan dokter spesialis. Pada tahap awal kami baru menyiapkan dua program, yakni spesialis pulmonologi dan respirasi dan spesialis obstetri dan ginekologi. Saat ini sedang berproses, mudah-mudahan segera mendapatkan izin,” kata Prof Muchlas.

Baca Juga :  Penguatan Edukasi Energi Terbarukan SMP Adiwiyata Surabaya, Digelar Ubaya

Muchlas juga mengingatkan para dokter baru untuk menjaga kebanggaan sebagai lulusan FK Unusa. “Anda harus bangga menjadi lulusan FK Unusa. Jaga nama baik fakultas dan universitas di tempat pengabdian Anda kelak,” pesannya.

Selain itu, ia memberi wejangan dengan merujuk buku The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey. “Tahap pertama kita perlu proaktif, lantaran biasanya orang baru yang berada di lingkungan baru tidak akan dikenal jika tidak aktif. Kemudian digandengkan dengan yang kedua understand to be understood. Kita perlu mendengarkan pendapat orang lain dengan begitu bisa menggandengkannya dengan pendapat kita,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan prinsip think win-win, put first things first, serta pentingnya sinergi. “Cara kita menyampaikan pendapat memiliki pengaruh dalam penerimaannya. Adakalanya pendapat yang baik tidak bisa diterima, karena cara menyampaikannya yang kurang baik. Lalu put first things first, memulai dengan apa yang harus dilakukan seperti visi dan tujuan kita di suatu lingkungan tertentu. Keenam sinergi, karena tidak ada orang di dunia ini yang hidup sendirian,” ungkapnya.

Menurutnya, jejaring sosial sangat menentukan. “Seringkali hidup bersosial, berjejaring bisa lebih menentukan masa depan. Banyak orang yang lebih senang bekerja dengan orang yang membuat mereka senang,” tambah Prof Muchlas.

Prof Muchlas menutup dengan pesan agar para dokter muda terus belajar. “Sharpen the saw artinya kita perlu mempertajam pengetahuan kita. Dengan terus belajar dan mencari tahu banyak hal. Pasalnya hal ini dapat membantu kita untuk bisa hidup beriringan dengan kemajuan teknologi,” ujar Prof Muchlas.

Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie turut menambahkan kabar baik terkait penerimaan mahasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). “Pada tahun ajaran 2025/2026 FK Unusa telah menerima mahasiswa KIP-K, setidaknya ada empat mahasiswa. Untuk kuotanya sendiri memang empat,” terang Jazidie. Ia menegaskan hal ini sebagai bentuk komitmen Unusa untuk membuka akses pendidikan bagi semua kalangan. “Biaya pendidikan kedokteran memang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan komitmen Unusa untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat luas, serta memberi kesempatan bagi semua anak bangsa untuk bisa menempuh pendidikan tinggi,” tutup Jazidie.(tok)