KILASJATIM.COM, Surabaya – Berawal dari sebuah daerah kecil di Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, langkah Johsua Indra Kurniawan Pole membawanya merantau hingga ke Surabaya. Lewat program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), ia menemukan pengalaman berharga tentang toleransi, persahabatan lintas iman, hingga motivasi besar untuk kembali membangun pendidikan di kampung halamannya.
Johsua mengaku awalnya belum mengenal Unusa. Namun, penempatan PPG di kampus tersebut justru membuka jalan baginya untuk belajar banyak hal. “Walaupun berbeda keyakinan, selama studi saya merasa sangat nyaman. Tidak ada masalah sama sekali, justru saya banyak dibantu dan dirangkul teman-teman muslim. Perbedaan ini bukan jadi penghalang dalam bergaul,” terang Joshua.
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Johsua adalah mengikuti mata kuliah Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah). Dari sini, ia mengaku mendapat perspektif baru tentang nilai kasih sayang, disiplin, dan toleransi dalam Islam. “Aswaja benar-benar membuka wawasan saya. Saya melihat teman-teman muslim disiplin sekali dalam mengatur waktu, terutama ketika sholat. Saya juga belajar banyak tentang makna toleransi. Saya merasa perbedaan justru menjadi sarana untuk saling memahami,” jelas Joshua yang ahir 23 April 1999 itu.
Kenangan manis pun ia bawa dari kelas tersebut. “Setelah ujian Aswaja, teman-teman tanya nilai saya. Ternyata mereka 96, sedangkan saya 98. Mereka mensoraki saya sambil tertawa. Itu momen yang sangat berkesan. Bahkan saat pertama kali menulis huruf Arab, mereka bilang tulisan saya bagus. Hal-hal kecil itu membuat saya semakin merasa diterima,” kenangnya.
Di balik kisah akademiknya, Johsua menyimpan mimpi besar: kembali ke Poso untuk membangun pendidikan. Terlahir dari keluarga sederhana, dengan orang tua lulusan SMK, ia justru semakin termotivasi melihat kondisi pendidikan di daerahnya yang masih tertinggal. “Saya merantau ke Jawa dengan harapan suatu saat bisa kembali membangun pendidikan di daerah asal. Saat ini saya belajar bagaimana sistem pendidikan di Jawa, dan nantinya akan saya terapkan di Poso,” ungkap anak kedua dari empat bersaudara pasangan Daniel Pole dan Jeni Biang itu.
Bagi Johsua, PPG di Unusa bukan sekadar syarat formal menjadi guru profesional, melainkan perjalanan penting untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, dan membangun karakter sebagai pendidik yang menghargai keberagaman. “PPG di Unusa sangat membantu saya. Bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga mengajarkan nilai kebersamaan, menghargai perbedaan, serta kesiapan menjadi guru profesional. Semua pengalaman ini akan saya bawa pulang dan saya terapkan di Poso,” tambah Joshua.
Johsua menutup ceritanya dengan optimisme bahwa pendidikan adalah kunci memajukan bangsa, termasuk di wilayah timur Indonesia. Dengan semangatnya, ia bertekad menjadi bagian dari perubahan itu melalui profesinya sebagai guru.(tok)
