KILASJATIM.COM, Surabaya – Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jawa Timur, Sutandi Purnomosidi menegaskan bahwa tidak ada istilah “rombongan jarang beli” (rojali), “rombongan hanya nanya” (rohana), maupun “rombongan benar-benar beli” (robeli) di pusat perbelanjaan di Jawa Timur.
Menurut Sutandi, kebiasaan masyarakat yang sekadar berjalan-jalan atau window shopping di pusat perbelanjaan bukan hal baru, dan justru merupakan bagian dari ekosistem ritel modern.
“Saya katakan bukan rohana atau rojali. Dari dulu orang jalan-jalan ke mall atau window shopping itu banyak. Tapi kalau rohana dan rojali, itu istilahnya KTP-nya di Jakarta. Di Surabaya, kami terus berupaya menarik orang datang ke mall, entah untuk belanja atau sekadar jalan-jalan, tidak masalah,” ujarnya di Surabaya, Rabu (31/7/2025).
Sutandi yang juga Direktur Marketing Pakuwon Group ini menilai kehadiran pengunjung yang tidak langsung belanja justru membawa potensi besar. “Kami sangat welcome orang jalan-jalan ke mall. Dari jalan-jalan mereka melihat produk, lihat baju baru, lihat diskon, akhirnya beli. Mereka ini potential buyer. Saya justru khawatir kalau mall sepi, nanti malah roh halus yang jalan-jalan,” selorohnya.
Ia menegaskan bahwa menjadi tugas para pengelola dan pelaku ritel untuk mengubah pengunjung menjadi pembeli melalui program dan promo menarik. “Kalau kita sudah datangkan rojali, rohana ke mall, itu potensi besar. Retailler harus kreatif bikin event-event yang menggoda,” tegasnya.
Namun, Sutandi tak menampik bahwa daya beli masyarakat tengah menurun, terutama di Surabaya. Ia menyebut tren ini mulai terasa sejak setahun terakhir.
“Memang terasa daya beli menurun, contohnya penjualan saat Lebaran tahun ini tidak lebih baik dari tahun lalu. Kalau penjualannya sama, berarti volumenya turun karena inflasi. Termasuk saat libur sekolah kemarin juga tidak seheboh tahun lalu,” jelasnya.
Menurutnya, saat ini merupakan fase penurunan dalam siklus ritel, terutama karena anak-anak sudah kembali sekolah. Ia meminta pelaku usaha tidak pesimistis menghadapi kondisi ini.
“Ini siklus. Saat ini tingkat kunjungan ke mall turun dan spending juga turun. Tapi jangan dianggap berlebihan. Yang penting, setiap mall harus aktif menarik pengunjung,” katanya.
Di bawah naungan Pakuwon Group, ia mengklaim kunjungan ke mall masih stabil. “Secara traffic, mall-mall Pakuwon naik meski tidak signifikan. Penjualan di toko juga masih aman meski pertumbuhannya single digit,” ungkapnya.
Sutandi memprediksi Semester II 2025 akan menjadi masa yang menantang bagi pengusaha pusat perbelanjaan. “Semester kedua berat karena tidak ada momentum besar seperti di semester pertama. Kita berharap Desember bisa jadi titik balik. Maka kami genjot event di Agustus-September, seperti belanja Rp 500 ribu dapat gift,” terangnya.
Ia juga mencatat pergeseran perilaku konsumen. “Kalau dulu orang beli brand mahal, sekarang tidak terlalu memandang merek. Asal nyaman, enak dipakai, harga terjangkau, itu yang dipilih,” tandasnya.(den)




