Keren! Mahasiswa UB Sulap Garam Jadi Produk Kecantikan dan Pupuk Organik

oleh -767 Dilihat
oleh

KILASJATIM.COM, Malang – Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) Malang berhasil mengembangkan dua inovasi produk berbasis garam lokal: lulur alami dari campuran garam dan kopi, serta pupuk organik cair dari limbah bittern atau cairan sisa kristalisasi garam.

Inovasi ini lahir dari program Mahasiswa Membangun Desa – Doktor Mengabdi (MMD-DM) yang berlangsung di Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, sepanjang Juli 2025. Program ini diketuai oleh Prof. Andi Kurniawan sebagai bagian dari pengabdian UB dalam implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Lulur alami yang dikembangkan menggunakan bahan dasar garam dan kopi lokal, diperkaya gliserin dan pengawet non-sintetis. Produk ini berfungsi sebagai eksfoliator alami untuk mengangkat sel kulit mati sekaligus menyegarkan kulit. Berbahan baku ramah lingkungan dan tersedia di desa, lulur ini dinilai berpotensi menjadi produk unggulan lokal.

Inovasi ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 8 tentang pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Di sisi lain, limbah bittern yang sebelumnya dibuang kini dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair kaya mineral penting seperti magnesium, mangan, dan klorida. Produk ini tengah diuji coba dan diharapkan menjadi solusi ekologis dalam pengelolaan limbah, sejalan dengan SDGs poin 15 tentang pelestarian ekosistem daratan.

Program ini disambut positif oleh masyarakat. Ketua Kelompok Usaha Garam (KUGAR) “Sumberoto Makmur Sejahtera”, Edi Santoso, mengaku terkejut dengan potensi turunan dari produksi garam.

“Selama ini kami hanya tahu garam untuk konsumsi dan ternak. Ternyata bisa jadi lulur dan pupuk juga. Air sisa produksi pun bisa dimanfaatkan,” ujar Edi.

Kepala Desa Sumberoto, Budi Utomo, juga mengapresiasi program tersebut. Ia menilai kegiatan ini membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

Baca Juga :  Tak Semua Mampu, Wisuda SD-SMA Negeri Resmi Dilarang di Surabaya dan Jatim

“Kami berharap program seperti ini bisa terus berlanjut sebagai wujud kolaborasi nyata antara perguruan tinggi dan masyarakat,” katanya.

Tak hanya fokus pada inovasi produk, mahasiswa UB juga memberikan pelatihan kepada petani garam dan ibu rumah tangga setempat. Materi pelatihan mencakup proses pengolahan bahan baku, formulasi, hingga teknik pengemasan produk.

Lewat pendekatan berbasis teknologi dan pemberdayaan masyarakat, mahasiswa UB membuktikan bahwa potensi lokal seperti garam rakyat bisa naik kelas—tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga mendorong pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan. (TAM)

No More Posts Available.

No more pages to load.