KILASJATIM.COM, SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) bekerja sama dengan Tasuc Corporation Jepang memperkenalkan modul pendidikan Japanese Seven Key Points (J*sKeps), melalui kegiatan Kuliah Pakar di Auditorium Lantai 9 Unusa Tower, menjawab tantangan pendidikan inklusif di Indonesia. Anak-anak berkebutuhan khusus membutuhkan pendekatan berbeda dalam proses belajar-mengajar.
Pakar pendidikan dari Tasuc Corporation, Ukai Saito, menegaskan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus masih kerap mengalami diskriminasi akibat kurangnya pemahaman dari orang dewasa di sekitar mereka. “Saya yakin Indonesia punya semangat yang sama dengan Jepang untuk menciptakan pendidikan inklusif yang lebih baik,” ujar Ukai.
Ia menjelaskan, diskriminasi bisa ditekan melalui tiga tahap utama: membangun keyakinan, memberi pemahaman, dan memperluas pengalaman anak. Tahap pemahaman menjadi kunci, karena ketika anak dan lingkungan memahami kondisi tersebut, ruang untuk berkembang akan lebih terbuka.
Salah satu pendekatan penting yang dikenalkan dalam modul J*sKeps adalah asesmen dinamis. Berbeda dari asesmen konvensional yang berhenti pada diagnosis, asesmen ini berfokus pada langkah-langkah selanjutnya yang bisa dilakukan berdasarkan hasil pemantauan berkala selama satu tahun. Metode ini telah diterapkan di Amerika dan Inggris.
Ukai juga mengungkap hasil riset yang mengejutkan: anak-anak berkebutuhan khusus seperti ASD dan ADHD mengalami penuaan fisik lebih cepat, bahkan mulai dari usia 40 tahun. “Di Jepang, ada kasus tragis di mana orang tua yang putus asa memutuskan mengakhiri hidup bersama anaknya,” jelas Ukai. Ia berharap hal ini tidak terjadi di negara-negara lain, termasuk Indonesia. Selain berbagi ilmu, Ukai juga mempraktikkan cara menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus serta memperkenalkan alat bantu belajar yang digunakan di Jepang.
Rektor Unusa, Prof. Achmad Jazidie, M.Eng., dalam sambutannya menekankan pentingnya menghormati dan memahami cara berkomunikasi dengan anak-anak berkebutuhan khusus. “Ini bukan hanya soal metode, tapi soal empati dan penghargaan terhadap sesama,” tutup Achmad Jazidie.(tok)
