Perpaduan Sinema Monster Klasik dan Sejarah Perang Dunia dari Asia Tenggara

oleh -522 Dilihat

KILASJATIM.COM, Jakarta – Menilik judul filmnya ‘Orang Ikan”  kita yang membacanya pasti jadi penasaran dibuatnya. Dalam dunia film yang terus berkembang, setiap judul menyimpan cerita uniknya  sendiri. Dari aksi yang mendebarkan hingga drama yang mengharukan, setiap film menawarkan pengalaman yang berbeda bagi penontonnya.

Film-film horor Indonesia seringkali mengambil inspirasi dari mitologi dan legenda daerah. Film-film ini  menghadirkan cerita-cerita menyeramkan yang berakar pada kepercayaan dan cerita  rakyat Indonesia.

Lalu bagaimana dengan “Orang Ikan” itu sendiri?  Lewat acara Special Screening Gala Premiere Film “Orang Ikan”, rumah  produksi Gorylah Pictures, berkerjasama dengan Zhao Wei Films (Singapore) dan Infinite Studio (Indonesia) mempersembahkan sebuah karya unik yang  memperluas cakrawala dengan genre creature horror action dengan sentuhan Asia  Tenggara.

Disutradarai dan ditulis oleh Mike Wiluan, film ini menggabungkan mitologi lokal,  kisah sejarah, dan elemen sinematik monster klasik dalam satu pengalaman sinema yang segar dan menggugah secara visual maupun emosional.

Sebagaimana dijelaskan Mike Wiluan, sutradara Indonesia, Tema yang mendasari film ini adalah tentang kemanusiaan, bagaimana manusia  dapat dengan mudah menghancurkan satu sama lain dalam peperangan, tetapi ketika  dihadapkan dengan sesuatu yang tidak diketahui dari alam, mereka dapat bekerja sama untuk bertahan hidup.

“Film ini merujuk pada bagaimana manusia dapat merusak  sesuatu yang tidak dipahami. Makhluk seperti Orang Ikan bertahan hidup karena ia  perlu menyukai semua satwa liar. Pada akhirnya, antagonis di dunia ini tidak selalu  makhluk. Melainkan manusia,” jelas Mike Wiluan, yang juga  pemimpin Infinite Studios dan  berpengalaman dalam memproduseri film-film internasional, seperti Buffalo Boys, Monkey Man, The Night Come For Us, Losmen Melati.

“Orang Ikan” adalah film horor aksi yang memadukan kisah sejarah dan mitologi lokal  dengan sinema monster klasik. Berlatar belakang Perang Dunia II, Film Orang  Ikan mengisahkan seorang tentara Jepang dan tawanan perang Inggris yang terdampar di pulau terpencil dan harus berhadapan dengan makhluk ganas.

Film mitologi “Orang Ikan” terinspirasi dari cerita rakyat Melayu dan film klasik “Creature from the Black Lagoon”. Mengangkat kisah makhluk mitologi Indonesia,  perpaduan manusia dan ikan, yang hidup di perairan.  Mike Wiluan membawa visinya pada sinema horor Asia dengan pendekatan yang tidak biasa. Ia menyebut film ini  sebagai “kisah asal muasal tentang monster, yang lahir dari tragedi kemanusiaan  Perang Dunia II.”

“Sebagian besar cerita rakyat di Indonesia berbasis daratan. Selain Nyai Roro Kidul  yang merupakan Dewi Laut, Orang Ikan adalah makhluk yang tidak memiliki kekuatan khusus atau hubungan dengan ritual kuno, agama, atau budaya sosial seperti banyak cerita rakyat lainnya,” papar Mike.

Baca Juga :  Ribuan Anak Meriahkan LOF KUN Indonesia Kids Marathon di Surabaya

“Film “Orang Ikan” bukan hanya sebuah film horor, tetapi juga sebuah upaya untuk  mengangkat cerita rakyat dan mitologi Indonesia ke layar lebar, serta memperkenalkan budaya Indonesia kepada penonton global.

“Film ini juga menceritakan tentang konflik, penyembuhan luka sejarah, dan kemungkinan perdamaian dalam kondisi paling  ekstrem,” imbuhnya.

Film “Orang Ikan” merupakan produksi lintas negara antara Indonesia, Singapura,  Jepang, dan Inggris. Sederet aktor dan filmmaker ternama turut terlibat dalam proyek  film ini, seperti Dean Fujioka, aktor dan penyanyi Jepang yang dikenal di Asia Timur, Callum Woodhouse, aktor asal Inggris (The Durrells, All Creatures Great and Small), Alan Maxson, aktor spesialis creature-feature dari Hollywood, dan sederet produser  ternama, seperti Eric Khoo, Freddie Yeo, Tan Fong Cheng, Fumie Suzuki  Lancaster, James Khoo, Darryl Yeo, Ninin Musa, Alexandra Gottardo, Yutaka Tachibana, Takahiro Yamashita, Anthony Khoo, serta dukungan produksi dari  Zhao Wei Films (Singapura), Gorylah Pictures dan Infinite Studios (Indonesia).

Meskipun melibatkan banyak orang dari berbagai lintas negara, Film “Orang Ikan” 100% diproduksi di Indonesia, mengambil lokasi di Curug Sodong, Sukabumi, Kawasan Geopark Ciletuh dan Studio Infinite di Batam serta dibuat oleh tim Indonesia, seperti  Asep Kalila (Director of Photography) yang mengambil pendekatan kontras antara lanskap tropis dan atmosfer horor laut, Ernaka Puspita Dewi (Make Up Designer) dan Fajrul Fadillah (FVX Artist).

 Terlibatnya tim Indonesia dalam proyek film ini menjadi bukti bahwa film maker Indonesia telah mumpuni dalam menjalankan produksi dengan  pihak asing.  Untuk dialog dalam Film “Orang Ikan” menggunakan Bahasa Inggris dan Jepang.  Karena cerita tersebut mengharuskan adanya karakter Jepang dan Inggris, itulah yang menjadi alasan untuk menghadirkan Dean Fujioka dan Callum Woodhouse dalam  film ini.

“Kami ingin menampilkan aktor asli dari negara asal. Dean sangat mengenal  Indonesia dan berbicara dalam berbagai bahasa serta terbiasa dengan koreografi  pertarungan. Callum adalah karakter yang luar biasa yang tidak takut berada dalam situasi sulit. Keduanya memiliki karya akting yang luar biasa dan pengalaman yang luar biasa,” ungkap Mike bangga.

Meskipun banyak melibatkan para film maker hebat, bagi Mike tantangan terbesar dalam film yang mengangkat sosok makhluk adalah desain dan bentuk makhluk yang ingin ditampilkan karena pada dasarnya makhluk tersebut adalah karakter utama.

“Saya pernah punya pengalaman dengan prostetik tetapi belum pernah bekerja dengan kostum lengkap dan animatronik sebelumnya. Untuk membuat film ini membutuhkan  waktu dan pemilihan aktor makhluk juga merupakan bagian dari proses tersebut. Aspek  lain yang menantang dalam pembuatan film ini adalah lokasi yang sangat terpencil.  Prosesnya menantang secara fisik dan mental,” cerita Mike.

Baca Juga :  EIGER Adventure Persiapan Ekspedisi 5 Negara di Asia Tenggara, Diawali Ekspedisi Dalam Negeri

Film “Orang Ikan” merupakan film Indonesia yang menggunakan teknik kostum monster yang mumpuni yang melibatkan Allan Holt, creature designer dari Amerika dengan prostetik dan teknik practical effects ala era klasik dengan detil kostum yang sangat riil.

Terkait teknik khusus yang digunakan dalam proses pembuatan film “Orang Ikan” ini, Mike Wiluan mengatakan melakukan syuting di medan yang berbahaya, jadi  keselamatan menjadi hal yang penting. Kami melakukan syuting di hutan, tebing, gua, dan pantai liar dengan arus yang kuat.

” Tim pemeran pengganti dan personel keselamatan kami selalu siap sedia. Proses khusus perlu dilakukan pada kostum Orang Ikan dan pemainnya karena kostum tersebut sangat panas. Kostum tersebut memiliki sistem pendingin khusus yang sangat mirip dengan pembalap F1. Kostum tersebut juga memiliki animatronik yang sangat sensitif yang memerlukan operator yang terampil.”

Sebelum penayangan di bioskop Indonesia, “Orang Ikan’ telah mencuri perhatian dunia  lewat pemutarannya di beberapa ajang film festival Internasional, seperti: 37th Tokyo International Film Festival 2024 (Gala Selection), 35th Singapore  International Film Festival 2024 (Official Selection), Trieste Science+Fiction Festival 2024 (European Premiere – Neon / Asteroid Competition), Overlook Film Festival 2025 (US Premiere), Fantasy Filmfest Night 2025 (German

Premier), dan Neuchatel Int’l Fantastic FF 2025 (Swiss Premiere).

Film “Orang Ikan” juga banyak dipuji oleh kritikus film dunia atas pendekatan segar terhadap sub-genre creature-feature dengan konteks Asia yang kuat. “A bold reimagining of the monster genre rooted in Southeast Asian history… visually gripping and emotionally complex.”— Bloody Disgusting. “Monster horror meets wartime survival in a unique hybrid only Southeast Asia could deliver.”— Film Inquiry.

Rencananya film “Orang Ikan” juga akan tayang di berbagai negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru, Jerman, Yunani, Italia, Spanyol, Inggris, Rusia/Baltik, dan Timur Tengah.

“Monster dari legenda Asia kini hadir di layar lebar. Saksikan kisah bertahan hidup paling mendebarkan tahun ini hanya di bioskop! Film ini rencananya  akan tayang sebagai special showcase/screening di bioskop CGV di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya mulai 11 Juli 2025,” pungkasnya. (nov)

No More Posts Available.

No more pages to load.