Konflik Israel-Iran Berlanjut, Dolar AS Capai Puncak

oleh -755 Dilihat
Ilustrasi (Foto: dok kilasjatim)

KILASJATIM.COM, Jakarta – Dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan dominasinya dengan mencapai level tertinggi dalam tiga pekan terhadap sejumlah mata uang utama pada Jumat, 20 Juni 2025. Penguatan ini terjadi di tengah pernyataan Iran yang mengisyaratkan kesediaan untuk melanjutkan diskusi terkait konflik yang sedang berlangsung dengan Israel.

Melansir Investing.com pada Senin, 23 Juni 2025, indeks dolar (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama dunia lainnya, telah naik sepanjang pekan ini hingga 0,6 persen. Terakhir, indeks ini diperdagangkan stabil di angka 98,70.

Peningkatan nilai dolar AS ini juga diwarnai oleh perkembangan di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan kesediaannya untuk mengadakan pertemuan lanjutan dengan Jerman, Prancis, Inggris, dan Uni Eropa. Pernyataan ini membuka peluang baru bagi penyelesaian diplomatik atas konflik yang melibatkan serangan udara antara Iran dan Israel.

Namun, di sisi lain, penguatan dolar sempat tertekan oleh pernyataan Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Chris Waller, yang mengisyaratkan bahwa pemangkasan suku bunga dapat dipertimbangkan secepatnya pada bulan Juli.

“Pasar sudah memproyeksikan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini. Pernyataan Waller menunjukkan itu mungkin datang lebih cepat dari yang diperkirakan,” kata Analis Senior FXStreet, Joseph Trevisani.

Meski ada sinyal berunding, Iran menegaskan tidak akan membahas masa depan program nuklirnya selama masih diserang oleh Israel. Situasi ini semakin rumit dengan perhatian yang tertuju pada Gedung Putih. Amerika Serikat menyatakan akan mengambil keputusan dalam dua minggu terkait potensi keterlibatan militer dalam konflik tersebut, meskipun secara diam-diam telah melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

Kendati demikian, sentimen pasar masih dibayangi oleh ketegangan dan ancaman perang dagang, terutama menjelang tenggat waktu tarif baru dari AS. Kekhawatiran ini turut menekan sentimen risiko dan membatasi penguatan dolar lebih lanjut. (den)

No More Posts Available.

No more pages to load.