KILASJATIM.COM, Jakarta – Ekspor China ke negara-negara Asia Tenggara mengalami lonjakan signifikan pada April 2025 di tengah penurunan tajam pengiriman ke Amerika Serikat, imbas dari kebijakan tarif tinggi yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump.
Dilansir dari CNBC International, data dari otoritas bea cukai China menunjukkan ekspor Negeri Tirai Bambu meningkat 8,1% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada April dalam denominasi dolar AS. Angka ini jauh melampaui proyeksi survei Reuters yang hanya memperkirakan kenaikan 1,9%.
Lonjakan terbesar terjadi pada ekspor ke kawasan ASEAN, yang tumbuh 20,8% YoY pada April, naik signifikan dibandingkan pertumbuhan 11,6% di bulan sebelumnya. Vietnam dan Malaysia tetap menjadi pasar utama, sementara ekspor ke Indonesia dan Thailand melonjak masing-masing 37% dan 28% YoY.
Di sisi lain, ekspor China ke Amerika Serikat merosot lebih dari 21% pada April dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sedangkan impornya turun hampir 14%. Ini merupakan penurunan tajam setelah sebelumnya sempat tumbuh 9,1% pada Maret, ketika eksportir China berusaha menggenjot pengiriman sebelum tarif tinggi diberlakukan.
Selama empat bulan pertama tahun ini, total ekspor China ke AS turun 2,5%, sedangkan impornya turun 4,7% secara tahunan.
Presiden dan Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, menyatakan bahwa lonjakan ekspor kemungkinan didorong oleh kontrak dagang yang telah diteken sebelum kebijakan tarif diterapkan, serta praktik pengiriman tidak langsung melalui negara ketiga (transshipment). Zhang juga memperkirakan bahwa kinerja perdagangan China akan cenderung melemah dalam beberapa bulan ke depan.
Selain ke Asia Tenggara, ekspor China ke Uni Eropa juga mencatat kenaikan 8,3% YoY pada April. Namun, impor dari kawasan tersebut anjlok 16,5%. Sebagai perbandingan, pada Maret, ekspor China ke Uni Eropa tumbuh 10,3%, sementara impor turun 7,5%.
Seperti diketahui, Presiden Donald Trump telah menaikkan tarif impor terhadap barang-barang dari China hingga mencapai 145%, yang kemudian dibalas oleh Beijing dengan tarif balasan sebesar 125% terhadap produk-produk asal AS. Meski begitu, kedua negara disebut masih memberikan pengecualian pada sejumlah produk strategis guna meredam dampak negatif terhadap perekonomian masing-masing.(den)


