AS Kurangi Peran sebagai Mediator dalam Konflik Rusia-Ukraina

oleh -807 Dilihat

KILASJATIM.COM, Jakarta — Amerika Serikat secara resmi mengumumkan akan mengurangi perannya sebagai mediator dalam upaya perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, yang menegaskan bahwa Washington tidak lagi akan aktif mencari jalan tengah bagi kedua negara yang bertikai.

“Kami tidak akan berkeliling dunia setiap saat untuk memediasi pertemuan; sekarang itu adalah urusan antara kedua pihak, dan sekaranglah waktunya mereka perlu menyampaikan dan mengembangkan ide-ide konkret tentang bagaimana konflik ini akan berakhir,” ujar Tammy Bruce, dikutip dari Euronews, Senin (5/5/2025).

Keputusan ini menandai perubahan signifikan dalam strategi diplomatik AS setelah berbulan-bulan upaya perdamaian yang dinilai tidak membuahkan hasil. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubi, bahkan menyatakan bahwa AS bisa saja meninggalkan seluruh upaya gencatan senjata jika tidak ada perkembangan berarti dalam waktu dekat.

Sejak awal masa pemerintahannya, Presiden Donald Trump berulang kali menyatakan keyakinannya bahwa ia bisa mengakhiri perang dengan cepat. Namun, upaya tersebut gagal mengubah situasi di lapangan. Trump pun mulai menunjukkan rasa frustrasi atas stagnasi yang terjadi.

Hal serupa disampaikan Wakil Presiden JD Vance, yang menyebut bahwa tanggung jawab kini sepenuhnya berada di tangan Rusia dan Ukraina.

“Kedua pihak sudah mengetahui syarat dari lawannya masing-masing. Saatnya mereka sendiri yang ambil langkah,” tegasnya.

Sebelumnya, AS telah mengajukan sejumlah inisiatif, termasuk usulan gencatan senjata selama 30 hari dan gencatan terbatas untuk melindungi infrastruktur sipil. Washington juga tercatat menggelar pembicaraan dengan perwakilan Rusia di Arab Saudi.

Namun, langkah-langkah itu menimbulkan ketegangan baru. Ukraina dan beberapa sekutu Eropa merasa tersingkir dari proses negosiasi yang berlangsung tertutup. Di sisi lain, Rusia terus menolak atau menunda semua proposal damai yang diajukan AS.

Baca Juga :  Telkomsel Melalui Unit Ventura  TMI dan MDI Ventures Kolaborasi dengan Roambee Amerika Menjaring Startup Skala Global

Meski begitu, Kyiv menyatakan kesediaannya untuk menerima rencana gencatan senjata yang didukung oleh AS, namun tetap menuntut penghentian permusuhan tanpa syarat. Pemerintah Ukraina juga mencurigai bahwa keterlambatan Rusia dalam merespons proposal damai hanyalah strategi untuk membuang waktu.

Langkah AS ini diyakini akan mengubah dinamika diplomasi global dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun itu, dan membuka ruang baru bagi aktor-aktor internasional lain untuk mengambil peran.(den)

No More Posts Available.

No more pages to load.