Mahasiswa FDB Universitas Ciputra Angkat Karya Anak Disabilitas ke Level Fashion Kontemporer

oleh -473 Dilihat

KILASJATIM.COM, SURABAYA – Mahasiswa Fashion Design and Business (FDB) Universitas Ciputra di bawah bimbingan Janet Teowarang, dalam proyek kolaboratif bersama Yayasan Dmart Tithiek Tenger, sebuah organisasi sosial yang menaungi anak-anak berkebutuhan khusus di Kota Malang, berkolaborasi memadukan kreativitas dan kemanusiaan.

Proyek ini bermula dari keperdulian akan karya batik artisan Topeng Malangan hasil karya artisan batik disabilitas Yayasan Dmart Tithiek Tenger yang dinilai belum memiliki nilai jual tinggi, kurang kompetitif, dan belum sesuai selera pasar anak muda masa kini. Melihat potensi besar di balik keterbatasan itu, Janet Teowarang bersama para mahasiswanya bergerak: membeli tiga kain batik dengan motif berbeda karya artisan batik disabilitas dan mengangkatnya menjadi karya desain fashion kontemporer. Langkah awal dilakukan secara sederhana yaitu melakukan proses desain fashion kontemporer melalui pemindahan kain batik yang berukuran 2,5 m x 1,20 m menjadi data digital menggunakan scanner kemudian kain batik dijadikan skala kecil dan dicetak dengan tinta ramah lingkungan untuk dijadikan busana dengan media boneka Barbie menggunakan inspirasi sejarah fashion dunia yang dimodernisasikan. Janet menyampaikan bahwa proses ini adalah bagian dari eksplorasi dalam mata kuliah Fashion and Culture, sebagai cara untuk mengangkat isu sosial inklusi melalui desain dan budaya. “Dari kreasi miniatur itulah lahir interpretasi nyata berupa tiga koleksi busana yang memukau.”

Karya pertama berasal dari Vallysha Christian Happy dan Jennifer Christella Wijaya, yang mengambil inspirasi dari gaya feminin tahun 1940–1950an. Dengan siluet klasik A-line, atasan putih berkerah tinggi yang diinovasikan menjadi satu dengan lengan, hingga aksesori elegan, karya ini memadukan nilai-nilai budaya dengan estetika vintage yang klasik dan berkelas. Karya kedua dari Gusti Agung Istri Krisna Kirana Kepakisan dan Audriana Clarissa_ berani mengeksplorasi batik dalam semangat era 70an yang penuh warna dan pengaruh gaya bohemian. Kirana dan Audriana menyajikan flare-leg pants dengan kain batik dan atasan halter dengan pita panjang menjuntai hingga lantai. Mereka menyatukan batik kontemporer ikon Kota Malang berwarna terang yang memiliki warna–warna psychedelic khas 70an dengan gaya etnik modern.

Baca Juga :  Pendidikan Aman Bencana di SMAN Malang Resmi Ditutup

Karya ketiga dari Rebecca Hagia Pranoto dan Melanie Gunawan Puteri, mengambil inspirasi dari siluet khas fashion wanita era 1950–1960, di mana bentuk rok lingkar (full skirt) menjadi ciri utama. Rok tersebut dimodernisasi menjadi bentuk balloon skirt yang tetap mempertahankan volume khas tahun 50-an, namun dengan potongan yang lebih playful dan dinamis. Atasan sleeveless dengan potongan sederhana dipadukan dengan aksen pita di leher menjadi sentuhan feminin khas tahun 1960-an. Kesan vintage diperkuat dengan motif batik modern yang disematkan pada detail pita dan kerah, serta dominasi motif topeng tradisional pada rok yang mengangkat nilai budaya lokal.

Tidak hanya sebatas pakaian, para mahasiswa juga melakukan re-desain terhadap motif batik yang ada, memberikan nafas baru dengan selera anak muda. Harapannya, motif batik karya artisan-artisan muda disabilitas ini dapat menjadi lebih menarik, lebih hidup, serta lebih diminati pasar generasi muda yang selama ini mungkin belum tersentuh oleh batik tradisional dari komunitas difabel.

Janet Teowarang bersama mahasiswa Universitas Ciputra Fashion Design and Business angkatan 2022 dan 2024 mempresentasikan karya busana dan desain digital tersebut secara langsung pada Sabtu, 26 April 2025 kepada Ketua Komisi D DPRD Kota Malang sebagai bentuk dukungan berkelanjutan terhadap pengembangan budaya inklusif. Dalam kesempatan itu, Bapak Eko Hardiyanto selaku Ketua Komisi D menyampaikan apresiasinya: “Saya mengapresiasi kolaborasi luar biasa antara mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya dan teman-teman disabilitas dari DMart dalam proses pengembangan desain Batik Topeng Malang ini. Kolaborasi ini tidak hanya menghasilkan karya seni yang inovatif dan penuh nilai budaya, tetapi juga menjadi contoh nyata bahwa inklusivitas dan kreativitas bisa berjalan berdampingan. Komisi D DPRD Kota Malang mendukung penuh upaya seperti ini untuk memperkuat pelestarian budaya sekaligus memberdayakan masyarakat rentan.”

Baca Juga :  Versi SCImago Institutions Rankings, Ubaya PTS Nomor Satu di Jawa Timur

Dukungan penuh juga datang dari Yayasan Dmart Tithiek Tenger. Bapak Djoko Rendy, Ketua Yayasan, menegaskan: “Kami sangat bangga bisa berkolaborasi dengan mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya dalam proses redesign Batik Topeng Malang. Melalui kerja sama ini, teman-teman disabilitas dari DMart mendapatkan pengalaman berharga untuk berinteraksi, belajar, dan berkontribusi dalam sebuah karya besar yang mengangkat budaya lokal. Ini adalah wujud nyata bahwa kreativitas dan keberdayaan bisa tercipta melalui kolaborasi lintas komunitas.”

Kebahagiaan dan rasa percaya diri juga dirasakan langsung oleh para artisan disabilitas. Dimas Rachmadhani, salah satu artisan batik binaan Yayasan Dmart Tithiek Tenger menyampaikan: “Saya lihat gambar desain batiknya bagus luar biasa. Favorit saya adalah gambar desain batik kelompok 1 dan 2. Saya suka warna dan motifnya.” Janet menambahkan bahwa Yayasan Dmart kini mendapat ruang untuk menjual karya artisan batik disabilitas di toko yang disediakan di gedung DPRD Kota Malang. “Kami berharap dengan adanya penambahan nilai pada karya ini, maka akan semakin meningkatkan penghasilan yang diraih oleh para artisan batik disabilitas ini,” jelasnya.

Dengan semangat kemanusiaan, Janet berharap kegiatan ini bisa membantu bukan hanya dari sisi ekonomi anak-anak disabilitas, tapi juga membangun rasa percaya diri mereka, bahwa karya mereka layak diapresiasi, dikembangkan, dan dipakai dengan bangga. Kegiatan ini menjadi contoh konkret bagaimana pendidikan fashion tidak hanya soal tren dan estetika, tetapi juga bisa menjadi media transformasi sosial, mengangkat suara mereka yang kerap terabaikan, dan menciptakan ruang kolaboratif di mana kreativitas dan empati berjalan beriringan.(tok)