Gubernur Khofifah Ajak Seniman dan Pelaku Pariwisata Jatim Bangun Peradaban Lewat Budaya

oleh -541 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengajak para seniman dan pelaku industri pariwisata untuk berperan aktif dalam membangun peradaban melalui pelestarian budaya. Ajakan ini disampaikan dalam sebuah acara yang berlangsung di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (26/3).

Dalam sambutannya, Khofifah menegaskan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga fondasi penting bagi identitas dan daya saing Jawa Timur di era globalisasi. “Budaya adalah cerminan peradaban. Jika kita mampu melestarikan dan mengembangkan warisan leluhur dengan baik, maka kita turut memperkuat jati diri bangsa sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis budaya,” ujarnya.

Acara ini dihadiri oleh seniman, budayawan, pelaku industri pariwisata, tokoh masyarakat, serta perwakilan dunia usaha. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat kolaborasi dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis budaya.

Salah satu kisah inspiratif yang disampaikan Khofifah adalah transformasi Kampung Topeng di Malang. Dahulu, kawasan ini dihuni oleh para gelandangan dan pengemis. Namun, melalui pelatihan dan pendampingan, masyarakat di sana kini berhasil menciptakan produk seni berbasis topeng Malangan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. “Kampung ini menjadi contoh konkret bahwa budaya bisa mengangkat martabat dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Khofifah juga menyoroti pentingnya memperpanjang lama tinggal wisatawan di Jawa Timur. Menurutnya, meski kawasan Bromo menjadi magnet utama, daya tarik budaya masih kurang dimaksimalkan. “Kita perlu menghadirkan atraksi seni dan budaya agar wisatawan tidak hanya singgah, tapi juga menetap lebih lama,” ujarnya.

Ia mengusulkan agar Jawa Timur memiliki pusat seni yang dapat menjadi ikon seperti Sydney Opera House di Australia atau panggung budaya di New York. “Jika kita bisa menghadirkan pertunjukan seni berkualitas secara konsisten, maka wisatawan akan lebih tertarik untuk tinggal lebih lama,” tambahnya.

Baca Juga :  'Bulik Soima' Kini Sasar Desa Tunggal Pager

Permasalahan minimnya minat masyarakat terhadap museum juga menjadi perhatian. Khofifah membandingkan kesadaran pelestarian sejarah di Indonesia dengan negara-negara eks-komunis dan Eropa, di mana museum menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. “Ini pekerjaan rumah bagi kita semua. Kita harus menumbuhkan kebanggaan terhadap sejarah dan budaya kita sendiri,” tegasnya.

Di tengah berbagai tantangan, Khofifah mengapresiasi semangat generasi muda dalam menjaga cagar budaya. Ia merasa bangga melihat anak-anak muda, bahkan yang masih berusia 19 tahun, sudah aktif terlibat dalam upaya pelestarian. “Ini sinyal positif bahwa estafet budaya telah menemukan penerusnya,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari, menambahkan bahwa acara ini merupakan bagian dari visi besar gubernur dalam mendorong pariwisata berkelanjutan. “Jawa Timur memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Jika dikelola dengan baik, ini bisa menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.

Mengakhiri sambutannya, Khofifah kembali mengajak semua pihak untuk bersinergi dalam menjaga warisan budaya leluhur. Ia menegaskan bahwa Jawa Timur, sebagai pusat peradaban Majapahit, harus terus menggaungkan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika ke dunia melalui seni dan budaya. “Melestarikan budaya bukan hanya bentuk penghormatan terhadap masa lalu, tetapi juga investasi untuk masa depan bangsa,” pungkasnya. (FRI)