Antusias anak anak usia dini terhadap kompetisi panjat tebing yang digelar EIGER The Spider Kids 2025 di Surabaya, Sabtu (22/02/2025) (kilasjatim.com/Frizal)
KILASJATIM.COM, Surabaya – Minat terhadap olahraga panjat tebing di Indonesia terus meningkat, terutama setelah keberhasilan Veddriq Leonardo meraih medali emas pertama untuk Indonesia di Olimpiade Paris 2024 dalam kategori speed. Tren positif ini mendorong EIGER Tropical Adventure untuk kembali menggelar kompetisi panjat tebing usia dini, The Spider Kids 2025, yang berlangsung serentak di Surabaya, Bandung, Makassar, dan Bali pada 22-23 Februari 2025.
Kompetisi ini merupakan bagian dari agenda tahunan EIGER yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Tahun ini, The Spider Kids 2025 diikuti oleh 291 peserta anak-anak dari berbagai daerah di Indonesia, menampilkan kategori Youth E untuk usia tujuh tahun ke bawah dan Youth D untuk usia 10-11 tahun.
Eiger Adventure Service Team Advisor, Galih Donikara, menjelaskan bahwa kompetisi ini tidak hanya sebagai ajang bertanding, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam mendukung Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) mencetak atlet-atlet muda berbakat sejak dini.
Aksi panjat tebing salah satu peserta yang mencapai hingga puncak. (Kilasjatim.com/frizal)
“Kami menyelenggarakan The Spider Kids sebagai wadah bagi anak-anak yang ingin menekuni panjat tebing. Selain memberikan pengalaman kompetitif, ajang ini juga membangun karakter atlet sejak usia dini. Kami berharap semakin banyak atlet muda yang muncul dan dapat berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Galih saat pembukaan di Surabaya, Sabtu (22/2/2025).
Surabaya mencatat jumlah peserta terbanyak dibandingkan kota lain, dengan 126 peserta anak-anak yang berlaga di kategori Youth E dan Youth D. Kompetisi ini mempertandingkan kategori lead climbing, di mana peserta harus mencapai titik tertinggi di jalur yang terus berubah hingga babak final.
Technical Delegate FPTI Kota Surabaya, Muhammad Efendi, menyebutkan bahwa The Spider Kids menjadi tolok ukur perkembangan panjat tebing di Jawa Timur dan kota-kota lain di Indonesia.
“Ajang ini sangat bergengsi dan dinanti oleh klub-klub panjat. Bukan hanya untuk mengukur kemampuan atlet, tetapi juga strategi pelatih. Kompetisi ini mencerminkan persaingan yang ketat di dunia panjat tebing usia dini dan menjadi salah satu kompetisi barometer di Indonesia,” ungkap Efendi.
Salah satu peserta datang dari Pasuruan, dibimbing oleh Agung, pelatih Arjuna Rock Climbing. Ia membawa tiga atlet muda andalannya dan mengungkapkan bahwa kompetisi ini menjadi ajang pembuktian teknik dan strategi mereka.
“Kami membina atlet panjat tebing sejak usia dini, bahkan ada yang mulai sejak empat tahun. Ini adalah program jangka panjang yang melibatkan latihan fisik, mental, serta dukungan dari orang tua. Dari sekadar coba-coba, anak-anak ini akhirnya memiliki semangat untuk berprestasi,” kata Agung.
Sejumlah klub panjat tebing lainnya juga turut serta dengan strategi masing-masing. Beberapa atlet datang dengan persiapan intensif, melakukan latihan khusus selama berbulan-bulan sebelum kompetisi berlangsung.
Dengan antusiasme yang tinggi, The Spider Kids 2025 menjadi bukti bahwa panjat tebing semakin diminati oleh generasi muda Indonesia. Ajang ini diharapkan dapat melahirkan atlet-atlet berbakat yang siap bersaing di kancah nasional maupun internasional. (nov/fri)

