SURABAYA, kilasjatim.com – Nadia (bukan nama sebenarnya) mengamati bayangannya di cermin kamar kosnya yang kecil di Surabaya. Cermin itu memantulkan wajahnya yang tampak lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya juga semakin gelap, menandakan tidur yang tak nyenyak selama berminggu-minggu.
Setiap pagi, rasa sakit menjalar dari pelipisnya ke tengkuk. Kepalanya berdenyut seakan ingin meledak. Ketika alarm berbunyi, rasa malas menyelimuti seluruh tubuhnya. Namun, tanggung jawab dan tuntutan pekerjaan membuat wanita lajang ini dengan terpaksa turun dari ranjang, melangkah ke kamar mandi, berdandan lalu berangkat ke kantornya.
Rasa sakit, lelah dan kecemasan yang ia rasakan saat hendak berangkat kerja dalam sebulan belakangan datang dari masalah di kantornya. Ada pimpinan baru yang otoriter datang dengan aturan-aturan tak jelas yang ia terapkan di kantornya.
Pimpinan baru tersebut, kerap mengeluarkan instruksi yang tidak jelas. Sering kali mengubah keputusan yang telah dibuat sebelumnya tanpa penjelasan yang memadai. Pekerjaan yang harus diselesaikan Nadia seolah tak pernah ada habisnya. “Harus cepat, harus selesai, dan tidak ada alasan untuk gagal, kalau tidak saya skors sekarang juga,” begitu Nadia menggambarkan ancaman yang kerap dilontarkan sang pimpinan dalam rapat.
Satu kejadian yang mengguncang Nadia adalah ketika sahabatnya, sebut saja Nina, disanksi oleh pimpinan baru tersebut. Nina adalah satu-satunya orang yang bisa diajak berbagi cerita dan beban di kantor. Suatu hari, Nina dituduh melakukan kesalahan dalam laporan yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya.
Sang pimpinan, yang ingin menunjukkan kekuasaan, langsung memberikan skorsing tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan. Nadia pun tertegun melihat sahabatnya yang selama ini selalu kuat, kini merana dan putus asa. Dalam amarahnya, Nina memilih untuk mengundurkan diri, meninggalkan kursi kosong di sebelah meja Nadia.
Sejak kepergian Nina, suasana di kantor terasa semakin sunyi dan mencekam. Nadia merasa semua beban terasa semakin berat. Pekerjaan amburadul, Ia merasa terisolasi, dan ketakutan akan kehilangan pekerjaan semakin membayangi.
“Setiap detik, saya selalu terbayang ruwetnya keadaan di kantor. Ini selalu menghantui saya, membuat cemas dan membuat seluruh badan saya terasa sakit terutama pagi hari sebelum berangkat ke kantor,” tutur Nadia.
Ia pun kini sedang mempertimbangkan matang-matang untuk mengakhiri karirnya di tempat kerjanya saat ini yang sudah dirintisnya 10 tahun belakangan.
Kisah Nadia menjadi gambaran nyata dari apa yang dialami banyak orang di tempat kerja, terjebak dalam lingkaran stres dan tekanan tanpa henti.
Hal ini senada dengan data dari organisasi kesehatan dunia, WHO (World Health Organisation) di mana satu dari delapan orang di dunia saat ini hidup dengan gangguan mental. Gangguan tersebut didominasi oleh depresi dan kecemasan, dua kondisi yang banyak ditemukan di kalangan pekerja.
dr. Effendy Rimba, SpKJ, staf Divisi Psikiatri di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya, Provinsi Jawa Timur, mengatakan dari data tersebut, “Satu dari empat pekerja berjuang secara diam-diam dengan kesehatan mental, sering kali disebabkan oleh stres berlebihan dan kurangnya dukungan di tempat kerja,” ujar dr. Effendy.
Di Indonesia, prevalensi gangguan mental juga cukup tinggi. Berdasarkan data tahun 2024, tercatat 9,1 juta kasus gangguan mental yang mencakup 3,7% dari total populasi. Usia produktif, terutama kelompok usia 18-24 tahun, menjadi yang paling rentan terhadap gangguan kecemasan dan depresi.
“Tanda-tanda gangguan mental di tempat kerja bisa dilihat dari penurunan produktivitas, kesulitan konsentrasi, hingga ketidakhadiran yang meningkat,” jelas dr. Effendy.
Selain itu, dr. Effendy juga menekankan bahwa gangguan mental tidak hanya berdampak pada psikologis tetapi juga fisik. “Gangguan mental memengaruhi kesehatan fisik, mulai dari rambut rontok hingga gangguan jantung dan masalah pencernaan,” katanya. Kondisi ini dapat memperburuk hubungan interpersonal di tempat kerja, mengganggu komunikasi antara atasan dan bawahan.
Hal senada juga dibenarkan drg. Vitria Dewi, Direktur RS Jiwa Menur Surabaya. Ia menyampaikan keprihatinannya atas meningkatnya kasus gangguan mental yang berdampak tidak hanya pada pasien, tetapi juga pada keluarga mereka. Keluarga sering kali harus mendampingi pasien, yang mengurangi produktivitas mereka.
“Ketika seseorang mengalami gangguan mental, produktivitasnya bisa turun hingga nol. Keluarga yang mendampingi pun terpengaruh, produktivitas mereka tidak bisa 100 persen,” tuturnya.
Khusus di lingkungan pekerjaan, ketidakjelasan dalam pekerjaan, relasi kerja yang buruk, dan lingkungan kerja yang toksik dapat memicu stres yang berkepanjangan.
“Lingkungan kerja yang tidak nyaman, kepemimpinan yang buruk, serta ketidakjelasan masa depan dan karier sering kali menjadi penyebab stres. Ini menurunkan kinerja dan membuat tim tidak nyaman,” paparnya.
Karenanya Vitria mengajak untuk mencari bantuan profesional seperti psikiater dan psikolog. “Jangan takut mencari psikiater, jangan malu mencari psikolog. Mereka adalah tempat curhat yang aman dan bisa membantu kita ketika gangguan mental sudah tidak bisa diatasi sendiri,” ujarnya.
Dan Rumah Sakit Jiwa Menur bisa menjadi rujukan bagi meraka yang merasa mempunyai masalah mental. Di sini, mereka yang sedang mengalami masalah mental bisa berkonsultasi langsung dengan para profesional di bidangnya. Dengan penanganan yang tepat dari dokter-dokter di RS Jiwa Menur, masalah gangguan mental ini akan tertangani dengan baik. Dan tentunya kualitas hidup pasien akan kembali membaik.
Rumah Sakit Jiwa Menur sendiri mempunyai layanan yang lengkap seperti Poliklinik Jiwa untuk anak dan dewasa, Poliklinik Psikogeriatri, Poliklinik Psikologi dan Poliklinik Napza.
RS Jiwa Menur kini sudah bertransformasi dengan menambahkan layanan non kejiwaaan seperti Penyakit dalam, jantung, kulit dan kelamin, gigi, paru, poliklinik anak sampai klinik estetika. (DEN)






