Bambang Pacul dan Korea-Korea pada Jumat Malam

oleh -3654 Dilihat

Oleh: Eri Irawan
Penulis, tinggal di Sukolilo, Surabaya

Bambang ‘Pacul’ Wuryanto menunjukkan bahwa politik adalah kombinasi antara keteguhan ideologi, loyalitas, dedikasi, dan perjuangan permanen. Politik tidak mengenal rehat.

Di depan ratusan anak muda Surabaya yang meriung di depan panggung, di Dyandra Convention Cemter, Jumat (19/7/2024) malam, Komandan Pacul mengurai filosofi tentang politik dan kehidupan dengan cetha, jenaka, tapi sekaligus mendalam dan kebak makna.

Dalam pandangan saya, bagi politisi senior PDI Perjuangan tersebut, politik berarti perjuangan personal dan perjuangan komunal. Sebagai sebuah perjuangan personal, Bambang Pacul melihat politik berurusan dengan eksistensi individu. Dia memperkenalkan istilah ‘“Korea” sebagai sebutan untuk kalangan politisi (dan juga kontekstual untuk beragam latar belakang lain) yang berangkat dari bawah (terutama dari kalangan kelas menengah bawah dan bukan elite). Mereka sebelumnya tidak bisa menembus piramida kekuasaan. Namun mereka memperbaiki nasib, melentingkan diri, dengan jalan memilih “galah” yang tepat.

“Korea”, “galah”, dan “melenting” adalah tiga kata ajaib yang begitu viral, terucap dari Bambang Pacul untuk menunjukkan pentingnya para Korea memilih jalan yang tepat untuk menggapai kesuksesan.

Korea, kata Bambang Pacul, harus punya karakter tidak mudah menyerah. “Wani” bila kita merujuk ke karakter khas Suroboyo. Dalam buku “Mentalitet Korea: Jalan Ksatria Komandan Bambang Pacul” karya Puthut EA menyebut: “Orang miskin bisa berubah. Orang miskin bisa menjadi orang besar dan hebat setelah melenting.”

Kuncinya, menurut Bambang Pacul, adalah “… gairah dan semangat membara untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik… Hiduplah dalam bahagia, kejarlah kebahagiaanmu”.

Filosofi Korea adalah keberanian. “Jalan untuk melenting ke atas tentu amat tidak mudah. Akan ada banyak rintangan yang menghalangi. Namun para korea tidak boleh menghindarinya . Beranilah bertarung, lawan jika ditekan, karena mentalitet korea adalah mentalitet kompetitif. Kompetisi itu jalan untuk melenting. Kompetisi adalah rangsangan untuk memicu adrenalin,” katanya.

Baca Juga :  Amaliah, Terima Tantangan 40 Hari Khatam dari J99

Mungkin karena mempersepsikan politik sebagai pertarungan tanpa rehat, Bambang Pacul menyamakan jalan politisi adalah jalan ksatria, yang berarti pengabdian dan dedikasi. Politik sebagai jalan ksatria berarti tidak lagi menempatkan perjuangan politik sebagai urusan personal atau individual, melainkan komunal. Dalam konteks Bambang Pacul, semesta politik komunalnya adalah wong cilik—yang mewujud dalam kerja-kerja kerakyatan di PDI Perjuangan.

Korea yang sukses melenting tak boleh tercerabut dari akar kelas bawah, akar wong cilik, dan tak boleh terpisah dari realita sosial mereka. Inilah yang benar-benar ditekankan oleh prinsip-prinsip mentalitet Bambang Pacul.

Bambang Pacul mengingatkan pentingnya empati pada kaum miskin. Korea sejati tak pernah lupa dari mana ia berasal. “Kehendak untuk menyantuni orang-orang yang berada di bawahnya (orang susah) harus mendarah daging dalam diri para korea. Sebab bagaimana pun, para Korea tidak boleh lupa diri.”

Bung Karno telah menyumbangkan terminologi ‘Kaum Marhaen’ dalam khazanah politik dan ideologi di Indonesia. Bambang Pacul, tentu saja dalam derajat yang berbeda, menyumbangkan ‘korea’ sebagai kosakata dan tafsir terhadap politik ‘Kaum Marhaen’. Tafsir yang segar, jenaka, dan lugas, yang menyadarkan banyak orang bahwa politik kekuasaan harus tetap berpijak pada akarnya: kaum kelas bawah.

Malam itu ratusan anak muda Surabaya—yang mungkin sebagian besar adalah Korea—pulang dengan kepala tegak, hati lapang, dan gembira. Semua cita-cita di kepala kembali bersahutan diiringi daya juang yang menggelegak khas Korea—yang seolah dihidupkan kembali setelah mendengar bagaimana Bambang Pacul mendedah filosofi hidup dan kehidupan. Meski daya juangnya menggelegak, saya yakin anak-anak muda Surabaya itu melakoni semua jalan dan situasi menuju cita-cita dengan hati gembira. Toh tak ada yang perlu dikhawatirkan berlebihan dalam kehidupan ini. Don’t worry be happy… (SAG)

No More Posts Available.

No more pages to load.