Foto: Tqi
KILASJATIM.COM, Malang – Tangannya bergetar ketika memasukkan benang pada jarum berwarna emas. Sebelum mulai menyulam rumah sederhana bercerobong asap dan berpohon rindang, pada selembar tas belacu yang disediakan.
“Terakhir nyulam, sebelum bapak meninggal. Itu pun atas permintaan beliau, membuat bingkai fotonya pas ulang tahun ke delapan puluh satu,” kata Aridia Elwiq Primadani, penulis yang pernah aktif di sanggar Kepik dalam Menyulam Bersama di Kedai Kopi Nori Malang, akhir pekan lalu.
Baginya, menyulam bukan sekadar barisan benang yang dibuat dari tusukan jarum pada kain. Juga media untuk berkontemplasi, sejenak rehat dari rutinitas menulis.

Sebelum menyulam, didahului dengan mengambar pola pada selembar kertas. Sebelum dipindahkan pada kain. Lantas memilih warna benang yang selaras, hingga menghasilkan sulaman yang cantik.
“Alangkah baiknya pelajaran menyulam diberikan pada anak-anak es de. Ketika motorik dan kreativitasnya sedang berkembang. Tapi, tidak masalah kalau remaja atau orang dewasa mau belajar,” ucapnya di sela pelajaran menyulam.
Bagi Kitty, staf bank swasta di Surabaya, sengaja ikut kelas menyulam, untuk mengingat pelajaran ketika es de. Sore itu, ia menggambar topi kuning berpita merah, khas serial film kartun One Piece.

Sedang Via, staf bagian rekam medis klinik sebuah rumah sakit, memilih membuat empat bunga ungu pada tas belacunya.
“Ini jauh dari bagus lho. Harap maklum kita masih belajar. Tapi menyulam itu sangat menarik, bermanfaat jadi gak ha pe an terus,” ungkapnya sambil membuat tangkai bunga dari benang hijau.
Dari peserta menyulam ada pasangan Pak Indro dan Bu Ipah dari Bangkalan. Bu Ipah ternyata tidak telaten, dari urusan menggambar dan menyulam, semua di serahkan pada suami tercinta yang menemani istrinya belajar sulam.

“Wes papa aja yang gambar aku tidak bisa. Sekalian menyulamnya sampean ae, aku ga telaten,” kata Bu Ipah sambil menyerahkan perangkat menyulam pada suaminya.
Kontan pasangan ini menjadi perhatian dan mengundang senyum peserta lain. Melihat Pak Indro yang sabar, bermain jarum dan benang, hingga membentuk gambar rumah.
Jadilah menyulam yang rencana tiga jam, dimulai pukul 14.00 berakhir sampai pukul 20.00. Sebab pesertanya ingin menyelesaikan karyanya.

“Tidak terasa sudah malam. Besok kita kemari lagi ya, belum selesai gambar saya,” ucap Shasa mahasiswi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sambil mengemasi barang-barangnya.
Sebab kegiatan ini bersifat terbuka, siapa saja boleh turut serta. Begitu pula dengan keanggotaan tidak terikat, yang pasti saling akrab dan membantu satu sama lain, jika kesulitan dalam berkarya. (tqi)




