Di Rooftop Kita Cerita Hujan dan Harapan

oleh -4855 Dilihat

Foto: Kilas Jatim/Tqi

KILASJATIM.COM, Surabaya – Pada satu petang yang tidak hujan. Kami bertemu setelah sekian pekan janjian, di rooftop 1+2×3, sekitar Taman Apsari Surabaya, Selasa (27/2/2024).

“Bagaimana kabarnya. Malang hujan terus?” tanya Ira dengan jabat tangan erat.

Kami berbagi cerita tentang hujan. Dari hujan lebat yang datangnya di jam yang sama. Menjelang Ashar sampai sekitar pukul 17.00 WIB. Bersamaan dengan waktu menjemput sekolah. Biasanya hujan berhenti setelah kami ganti baju, selonjoran sambil makan, begitu berulang.

Kadang selepas Magrib, hujan kembali datang. Menimbulkan melodi denting, pada talang. Suara konstan itu menggangu tidur kami. Ditambah suara jangkrik, bersahutan dan suara nges, kuncup nangka yang hendak mekar. Kira-kira bunyinya “ngik, ngik, ngik…” Sepanjang malam.

“Asik nih, seperti di pedalaman. Pada hal tengah kota ya,” sahutnya sambil nyeruput es.

“Iya sih, rumahku dekat kuburan. Pohon trembesi besar dan tinggi. Adem kalau siang, pas malam dan gerimis ya sepi,” cerita saya.

Begitulah cerita bergulir dari hujan, banjir berbelok ke setan dan penampakan. Semakin seru ketika Yan, kawan se-tim kami datang. Menambah cerita setan makin seram, sebab dekat rumahnya juga kuburan. Ada mbak kunti yang suka berjaga di pos ronda, tak jauh dari rumahnya.

“He, kalian ojok medeni. Kemarin malem pas nginep di rumah mbakku ada suara tangis perempuan. Aku sampai gak berani tidur sendirian. Makin malam suaranya makin kencang,” Ira berbagi pengalaman cerita mistisnya.

Nug yang nyimak obrolan para perempuan segera menyahut, “Dekat rumahmu itu kan kuburan. Pasti arahnya dari sana. Wong kalian cuma tinggal berdua, siapa lagi kalau bukan ngonok an (makhluk halus).”

Baca Juga :  Megawati, Amicus Curiae, dan Jalan Panjang Merawat Demokrasi

Dan mas Denny, melewatkan cerita seram dengan sepiring daging panggang saus pada hitam. Sesekali suara gesekan pisau dan daging bergantian, bersama suara piring yang bergesekan dengan meja. Seolah ingin dibelah juga.

Berbagi pengalaman, sejak petang hingga temaram. Kami menanti senja di atap rumah makan, diantara gedung menggapai langit. Malam yang tidak hujan, kami tidak melihat bintang. Terlihat kelap-kelip lampu pencakar langit, diantara riuh pengunjung dan aroma vape bercampur rokok. Puas berbagi cerita, menyampaikan keinginan dan harapan yang akan datang. Kami putuskan pulang.

“Semoga kita bisa ketemu pas Ramadan, buka puasa bersama, InsyaAllah,” ucap Nug sambil berjabat tangan. (tqi)

No More Posts Available.

No more pages to load.