KILASJATIM.COM, Surabaya – Ikatan Alumni Institute Teknologi Bandung (IA ITB) Jawa Timur menyuarakan dorongan kepada pemerintah untuk segera melakukan percepatan hilirisasi gas dan mineral di dalam negeri. Langkah ini dianggap sebagai solusi tepat untuk menanggulangi besarnya subsidi energi yang saat ini menjadi beban pemerintah.
Dalam sebuah acara Diskusi Kebangsaan dengan tema “Optimalisasi Nilai Tambah Industri Berbasis SDA Ekstraktif berupa Energi, Migas dan Mineral Batubara sebagai Lokomotif Ekonomi Bangsa dalam Mencapai Indonesia Emas 2045” dan Kongres Daerah VI IA ITB Jawa Timur di Surabaya pada Sabtu (27/1/2024), Direktur Utama PT. Petrogas Jatim Utama Cendana, Hadi Ismoyo, mengungkapkan kekhawatiran terhadap besarnya subsidi energi yang telah mencapai Rp159,6 triliun pada tahun 2023, melebihi target sebesar Rp145,3 triliun yang telah ditetapkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Hadi Ismoyo menjelaskan bahwa salah satu solusi untuk menurunkan besarnya subsidi adalah dengan mengganti penggunaan LPG dengan gas alam, mengingat potensi gas alam yang besar di dalam negeri. Menurutnya, konversi dari gas LPG ke gas alam perlu didorong melalui pembangunan infrastruktur yang massif, seperti pembangunan pipa gas, Regas terminal, pipanisasi distribusi, pipanisasi transmisi, hingga pipa rumah tangga yang dapat menggantikan LPG dalam jangka panjang.
“Hilirisasi dalam bentuk pembangunan infrastruktur gas perlu segera diwujudkan agar subsidi energi dapat ditekan,” ungkap Hadi Ismoyo.
Meskipun pemerintah masih berkonsentrasi pada pembangunan infrastruktur fisik seperti jalan dan jabatan, Hadi Ismoyo menyoroti kurangnya perhatian terhadap infrastruktur gas bumi. Ia menekankan bahwa gas bumi merupakan salah satu pilar pertumbuhan ekonomi, karena industri dapat tumbuh dengan adanya dukungan energi yang lebih murah dan kompetitif.
Menurut data Energy Institute, produksi gas alam Indonesia mencapai 57,7 miliar meter kubik pada 2022, dengan Jawa Timur menyumbang sekitar 400 MMCFD (juta kali kubik). Namun, hanya sekitar 5% dari jumlah tersebut yang digunakan sebagai pengganti LPG.
“Dengan fokus pada pembangunan infrastruktur gas, kita dapat mengkonversi penggunaan BBM ke gas alam, yang dapat membantu menurunkan subsidi energi,” tambah Hadi Ismoyo.
Direktur Utama PT. Krakatau National Resources – Koesnohadi menekankan pentingnya hilirisasi yang integratif, yaitu mengintegrasikan industri hilir dengan ekosistem penunjang. Ia menyatakan bahwa integrasi ini perlu ditingkatkan untuk mempercepat pembangunan industri hilir atau industri manufaktur.
Berkaitan dengan kesiapan SDM, Ketua IA ITB Jawa Timur Terpilih 2024-2028, Ahmad Bismillahi Normansyah, menyatakan bahwa saat ini pihaknya sedang menginventarisir keanggotaan sesuai dengan kompetensi masing-masing. Ia menyoroti kekurangan jumlah engineer dalam negeri dan menyatakan komitmen IA ITB untuk membangun dan memperkuat SDM, baik anggota maupun yang berafiliasi dengan ITB serta stakeholder lainnya, termasuk industri dan kalangan pesantren.
“Kedepan, ITB akan menggandeng pesantren, memberikan edukasi kepada santri agar dapat mengisi peran dalam industrialisasi, sehingga akses sosial dapat ditekan. Kami berkomitmen untuk ikut membangun dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan, SDM, dan gagasan yang akan kami gaungkan,” pungkasnya. (pur)

